Posts

Showing posts from December, 2014
Loading...
Loading...

Bila Saatnya Tiba bag 9 by Sally Diandra

Image
Bila Saatnya Tiba bag 9 by Sally Diandra. Keesokan harinya, ketika matahari mulai berani masuk kedalam kamar hotel 505 dan membiaskan sinarnya yang berwarna kuning keemas emasan, Jodha merasakan silau sinar matahari dipelupuk matanya, dikerjap kerjapkannya matanya sesaat, namun ketika dilihatnya ruangan tempatnya tidur bukanlah kamarnya, Jodha baru sadar kalau saat ini dia tidak sedang berada kamarnya “Dimana aku ? kenapa aku ada ditempat ini ?” tak lama kemudian Jodha langsung melihat kebalik selimut “Siapa yang membuka semua bajuku ini … dimana aku ?” Jodha panic “Apa yang aku lakukan semalam ? kenapa aku tidak ingat sama sekali ? aku hanya ingat aku sedang minum cocktail bareng Reesham dan Zakira ! dimana mereka ?” baru kali ini Jodha tidak bisa mengingat apapun yang terjadi pada dirinya sendiri, Jodha bingung apalagi diruangan itu tidak ada siapapun yang bisa diajaknya untuk bertanya, namun tiba tiba dari arah kamar mandi terdengar suara pintu dibuka, Jodha semakin panic, apalagi …

3 Wajah 1 Cinta by Meysha Lestari - Prolog

Image
3 Wajah 1 Cinta by Meysha Lestari - Prolog.  13 jam perjalanan dari Delhi ke Santorini, Yunani sama sekali tidak sia-sia. Banyak tempat indah dan bersejarah yang bisa di kunjunginya sebagai pelipur lara. Meskipun hanya sesaat saja, setidaknya dia bisa lupa derita hatinya yang merana. Jodha berdiri di balkon hotelnya  yang menghadap langsung ke arah laut Aegean dengan pantainya yang tak pernah sepi. Liburan 5 harinya di Yunani baru di mulai. Tapi dia sudah merasa kesepian. Tidak ada yang di kenalnya di sini. Semua petugas hotel ramah-ramah, tapi mereka bukanlah orang yang tepat untuk di ajak berbicara. Dia sama sekali tak menyangka bahwa baru 1 hari dia sudah merindukan kehangatan rumahnya, saudara-saudara perempuannya, Salima ~kakaknya~ dan adiknya Ruqaiya. Selama ini jika berlibur kemana-mana dia selalu pergi bersama-sama mereka. Ini pertama kalinya dia pergi berlibur seorang diri. Tapi memang niatnya berlibur ke Yunani adalah untuk mengasingkan diri dan menata kembali hatinya yang t…

Takdir bag 43 by Tahniat

Image
Takdir bag 43 by Tahniat. Keesokan paginya, Jalal masih harus menghadiri pertemuan lagi. Dia memaksa Jodha ikut dengannya ke tempat meeting. Tapi Jodha menolak. Kata Jodha, “aku akan diam di kamar dan tidak akan keluar-keluar sampai kau datang.” Jalal mengeleng, “tidak! Kau harus ikut aku. Ini bukan hanya tentang mu, tapi juga tentang aku. Kau bisa jadi aman diam di dalam kamar, tapi aku tidak akan tenang memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi padamu. Aku tidak percaya dengan staff di hotel ini. Aku merasakan ada keganjilan pada insiden penculikanmu kemarin. Bagaimana mungkin dua orang tak di kenal, bukan tamu hotel bisa bebas berkeliaran dan tahu dikamar nomor berapa kita menginap. Tidak mungkin tidak, pasti ada orang dalam yang terlibat dan menjadi informannya. Aku juga penasaran dengan tujuan mereka melakukan tindakan itu.” Jalal mendekati Jodha yang duduk depan meja rias. Jalal memegang bahu Jodha dan mencium ubun-ubunnya sambil berkata dengan nada memohon, “jadi aku mohon…ikutl…

Bila Saatnya Tiba bag 8 by Sally Diandra

Image
Bila Saatnya Tiba bag 8 by Sally Diandra. Saat semua keluarga besar sudah menyetujui perjodohan Jodha dan Jalal, tiba tiba Jodha mendongakan kepalanya dan berkata : “Ayah, ibu, ibu Hamida dan semua keluarga yang hadir disini, bolehkah aku mengutarakan pendapatku ?” tanya Jodha penuh harap, “Apa yang kau utarakan, Jodha … katakanlah” ujar bu Meinawati, “Tanpa mengurangi rasa hormatku pada kalian semua, dengan berat hati aku katakan, kalau aku menolak perjodohan ini, saat ini aku tidak ingin menikah, aku masih ingin meneruskan studyku, aku masih ingin bebas, aku belum ingin terikat dengan siapapun … aku harap kalian semua bisa mengerti, maaf …aku minta maaf sedalam dalamnya” kata Jodha sambil segera angkat kaki dari hadapan mereka semua, sementara yang hadir disana tercengang mendengar ucapan Jodha, terlebih lebih bu Meinawati dan pak Bharmal, “Jodhaa …” ketika bu Meinawati hendak mengejar Jodha, tiba tiba Jalal menghentikan langkahnya, “Tidak usah, bu … tidak apa apa, saya bisa mengert…

Bila Saatnya Tiba bag 7 by Sally Diandra

Image
Bila Saatnya Tiba bag 7 by Sally Diandra. Jalal benar benar sangat geram akan perlakuan Jodha disanggar tari tadi, malam itu Jalal langsung pulang kerumahnya dan berendam di bathup kamar mandi, tempat favouritenya untuk merenung. Masih teringat kembali ucapan Jodha yang begitu pedas ditelinganya “Tidak ! maaf mu aku terima tapi aku nggak mau jadi temanmu !”, “Lalu kamu mau apa ? mau memukul aku ? pukul !” Jalal mengepalkan tangannya keras. “Baru kali ini aku ditolak oleh seorang perempuan, berani benar dia membentakku seperti itu, kalau dia bukan perempuan, sudah aku hajar dia ! “ Jalal sangat geram dengan perlakuan Jodha yang mempermalukan dirinya didepan teman teman Jodha disanggar tari dan untuk meredakan amarahnya, Jalal berdiam diri didalam bathupnya yang berisi air panas, air panas mampu membuat tubuhnya rilex dan nyaman. Segera setelah selesai mandi, bergegas Jalal menuju dapur, aroma kopi dimalam hari menggugah seleranya untuk mengkonsumsinya, “Jalal, kamu sudah pulang ?” tiba…

Bila Saatnya Tiba bag 6 by Sally Diandra

Image
Bila Saatnya Tiba bag 6 by Sally Diandra. Setelah puluhan tahun lamanya mereka berpisah, akhirnya hari ini Meinawati dan Hamida bisa bertemu kembali, masih tergambar dengan jelas dalam benak Meinawati puluhan tahun yang lalu ketika mereka sekeluarga harus pindah ke Papua karena suaminya, Bharmal mendapat tugas disana, saat itu Maan Sigh baru berusia 2 bulan sedangkan Hamida yang sudah lama menikah dengan Humayun belum dikaruniai anak juga. “Ayah, ayah ingat ini siapa ?” Meinawati mencoba untuk mengingatkan Bharmal akan sosok Hamida yang kali ini sudah duduk disebelah Bharmal, dengan seksama dan cukup lama Bharmal memperhatikan Hamida, sejak stroke berat yang menimpa organ tubuhnya yang sebelah kiri beberapa tahun yang lalu, hingga menyebabkan kelumpuhan di kaki kirinya, ingatan Bharmalpun mulai menurun, “Ha – mi – da …. Is – tri Hu – ma – yun” tiba tiba terdengar suara Bharmal yang terbata bata dan terdengar lamat lamat ditelinga, “Iyaa betul Hamida istri Humayun” Meinawati mencoba me…

Takdir bag 42 by Tahniat.

Image
Takdir bag 42 by Tahniat. Jalal melihat kartu gesek untuk membuka pintu tergeletak di meja. Alarm tanda bahaya berdering di telinganya. Jalal cepat-cepat keluar kamar. Manager hotel masih menunggu di depan pintu. Jalal menatap sekeliling, dia terlihat pintu tangga darurat yang sedikit mengangah. Jalal seperti mendapat firasat. Sebelum berlari pergi, Jalal meminta Manager pergi keruang CCTV dan melihat kejadian yang terjadi 10 manit yang lalu di depan kamarnya dan di tangga darurat. Jalal juga menyuruh Manager agar mengirim penjaga di setiap pintu keluar hotel. Sekarang juga! Si manager seperti tahu apa yang terjadi bergegas melaksanakan perintah Jalal. Jalal bergegas menuruni tangga darurat secepat kilat. Dia bahkan tidak perduli dengan keselamatannya sendiri. Si Manager pun begitu, dengan menggunakan lift dia pergi ke ruang security. Di tengah Jalal dia berpapasan dengan Adham Khan. Pada Adham Khan si manager mengatakan kalau istri boss, Jodha di culik. Dan Jalal meminta seluruh pasu…

Bila Saatnya Tiba bag 5 by Sally Diandra

Image
Bila Saatnya Tiba bag 5 by Sally Diandra. Malam itu setelah mengantar Todar dan Mirza balik ke kantor, Jalal segera meluncurkan Jaguar hitamnya menuju rumah, sepanjang perjalanan Jalal berfikir keras “Mengapa Jodha selalu menghindar dari aku ? apakah cengkraman tanganku semalam sangat menyakitkan buatnya ? atau apakah ucapanku ada yang salah ? huuffttt … kenapa perasaanku seperti ini ? selama ini aku menganggap semua perempuan itu sama, sama sama brengsek, sama sama murahan seperti Rukayah … tapi kenapa perasaanku ke Jodha berbeda ?” Jalal terus berfikir keras soal Jodha sambil mengendarai Jaguarnya menyusuri pekatnya kota malam itu, sementara itu di radio mobilnya terdengar lantunan suara Once yang sedang menyanyikan lagu Aku Mau …. Kau boleh acuhkan diriku
Dan anggap ku tak ada
Tapi takkan merubah perasaankuKepadamu
Kuyakin pasti suatu saat
Semua kan terjadiKau kan mencintaikuDan tak akan pernah melepasku
Aku mau mendampingi dirimu
Aku mau cintai kekuranganmuSelalu bersedia bahagiakanmuAp…

Takdir bag 41 by Tahniat

Image
Takdir bag 41 by Tahniat.  "..aku akan mengajakmu pergi bulan madu kedua..!" Jalal mengedipkan matanya dengan jenaka. Jodha terlihat  tidak tertarik. Jalal menarik kepala Jodha dan menciumnya, “bergembiralah! Aku berjanji kau tidak akan kecewa.” Setelah berkata begitu, Jalal segera meninggalkan meja makan menuju garasi, mengeluarkan audi dan meluncur membelah jalan raya menuju ke kantornya. Jodha benar-benar gundah dan tak tahu harus bagaimana. Pikirannya terbelah dua, antara Jalal dan Ranvir. Setelah mengemas baju-baju yang akan di bawa dengan bantuan Moti, Jodha menelpon Rekha. Menanyakan kondisi Ranvir. Rekha memberitahu Jodha kalau kondisinya masih sama. Rekha meminta Jodha datang, tapi Jodha bilang kali ini dia tidak bisa. Tapi nanti sekembali dari Simla, dia berjanji akan menenggoknya. Perjalanan Delhi ke Simla dengan pesawat terbang hanya di tempuh selama satu setengah jam. Begitu menjejakkan kaki di bandara Shimla, Jodha langsung jatuh cinta dengan pemandangan alamn…

Bila saatnya Tiba bag 4 by Sally Diandra

Image
Bila saatnya Tiba bag 4 by Sally Diandra. Sore itu didalam angkot, Jodha sangat menyesali perbuatannya ke Suryaban, entah mengapa begitu melihat Jalal menghampirinya tadi, tiba tiba ada semacam kemarahan yang tertahan didadanya, Jodha merasa jijik begitu melihat Jalal yang telah menganggapnya sebagai wanita murahan, meskipun kemudian dia menyadari bahwa semua itu hanyalah salah paham belaka tapi hati kecil Jodha tetap belum bisa menerimanya 100%. Saat itu rasanya Jodha ingin sekali menumpahkan semua kemarahannya, agar semua orang tau bahwa dirinya sedang kesal dan semua ini karena Jallad ! Tiba tiba Jodha segera menghentikan angkot yang ditumpanginya dan segera keluar dari sana setelah membayar, saat itu hujan gerimis mulai turun, Jodha segera berlari kecil ke halte bis yang ada didepannya. “Uffttt … sialnya diriku, mana hari sudah hampir malam, hujan lagi” gerutunya dalam hati , tapi kemudian Jodha teringat Moti, segera diambilnya ponsel kesayangannya ditas dan dipilihnya nama Moti d…
loading...