Loading...
Loading...

3 Wajah 1 Cinta by Meysha Lestari - Prolog

3 Wajah 1 Cinta by Meysha Lestari - Prolog.  13 jam perjalanan dari Delhi ke Santorini, Yunani sama sekali tidak sia-sia. Banyak tempat indah dan bersejarah yang bisa di kunjunginya sebagai pelipur lara. Meskipun hanya sesaat saja, setidaknya dia bisa lupa derita hatinya yang merana. Jodha berdiri di balkon hotelnya  yang menghadap langsung ke arah laut Aegean dengan pantainya yang tak pernah sepi.

Liburan 5 harinya di Yunani baru di mulai. Tapi dia sudah merasa kesepian. Tidak ada yang di kenalnya di sini. Semua petugas hotel ramah-ramah, tapi mereka bukanlah orang yang tepat untuk di ajak berbicara. Dia sama sekali tak menyangka bahwa baru 1 hari dia sudah merindukan kehangatan rumahnya, saudara-saudara perempuannya, Salima ~kakaknya~ dan adiknya Ruqaiya. Selama ini jika berlibur kemana-mana dia selalu pergi bersama-sama mereka. Ini pertama kalinya dia pergi berlibur seorang diri. Tapi memang niatnya berlibur ke Yunani adalah untuk mengasingkan diri dan menata kembali hatinya yang terluka.

ss 3 wajahSuryabhan Singh memang bukan lelaki yang sempurna, tapi Jodha mencintainya. Suryabhan adalah pria pertama yang mengisi hatinya dan mengenalkannya dengan arti cinta dan kerinduan yang sesungguhnya. Dia berharap banyak pada Suryabhan. Bermimpi suatu saat akan menjadi istrinya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Dan mimpinya itu telah kandas 10 hari yang lalau, ketika tiba-tiba Suryabhan memutuskan hubungan dan menikahi wanita pilihan orang tuanya. Meninggalkan Jodha merana dan terluka.

Angin sepoi-sepoi meniup rambut Jodha yang tergerai lepas. Jodha memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang menbawa aroma laut yang khas sampai-sampai dia tidak menyadari, kalau di bawah pohon nyiur tak jauh dari balkon kamar hotel nya ada seorang pria yang menatapnya tak berkedip. Pria itu adalah Jalal, turis dari India yang sedang menghabiskan liburan tahun barunya di Kamari. Hampir sama dengan Jodha, bedanya, kalau Jodha ingin melipur kara, maka Jalal datang untuk berfoya-foya.

Jalal sama sekali tidak percaya dengan peruntunganya. Keisengannya untuk mengituki ajakan Vijay jalan-jalan di pasir pantai Kamari telah mempertemukannya dengan seorang wanita yang kecantikannya begitu memukau. Dia anggun seperti Athena dan postur tubunnya se seksi Aprodite sang dewi cinta. Dan Jalal seperti menjadi Ares yang tergila-gila pada keduanya. Yang membuatnya bahagia adalah karena wanita itu satu suku bangsa dengannya. Jalal walaupun berpandangan modern dan liberal, tapi dia tetap orang India tulen yang ingin menikahi seorang wanita india sebagai istrinya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Sudah hampir setengah jam Jalal mengawasi Jodha. Dia mensinkronkan dirinya dengan Jodha. Ketika Jodha bernafas, dia ikut menarik nafas. Ketika Jodha mendesah gundah, Jalal seperti turut merasakan penderitaanya. Ketika Jodha memejamkan mata, Jalal ingin merengkuhnya dan mendekapnya erat di dada.

Tiba-tiba Jalal melihat Jodha bergerak hendak beranjak. Jalal dengan rasa takut kehilangan segera berlari menghampiri dan berdiri di bawah balkon nya sambil menyapa dengan logat indianya yang sangat kentara, “hai….kau..!” Mendengar ada orang yang memanggil, meski tidak merasa kalau panggilan itu untuk dirinya, Jodha tetap menghentikan langkah dan menoleh ke bawah. Jalal tertawa ramah memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi dan berwarna putih cemerlang laksana mutiara. Jodha menatap Jalal dengan heran dan menunjuk hidungnya. Jalal tertawa dan mengangguk, “ya..kau! kau dari Delhi bukan? Aku seperti pernah melihatmu di sana..” Jodha membelalakan mata tak percaya, “benarkah? Apakah aku mengenalmu?” Jalal terlihat berpikir sebentar seperti menimbang apakah akan mengatakan kebohongan atau kejujuran. Lalu dengan tawa kecewa dia berkata, “sayang sekali tidak! Tapi aku rasa...aku memang pernah melihatmu. Dan kalau kau tidak keberatan turun kemari, aku bisa memperkenalkan diriku padamu.” Jodha mengerling dan melengoskan wajahnya. Jalal semakin terpesona. Dengan sedkit memohon Jalal berkata, “ayo turunlah… kita bisa berkenalan dan berbicara. Aku tahu kau kesepian di atas sana.” Jodha terbelalak pura-pura marah, “sembarangan. Aku tidak kesepian! ~padahal dalam hati, Jodha memang merasa kesepian~ Dan aku tidak biasa bicara dengan orang tidak di kenal.” Jalal cepat-cepat menyebutkan namanya, “Namaku Jalal, Jalaluddin Muhammad Akbar. Bolehkan aku tahu namamu?” Jodha mengeryitkan dahi lalu berkata, “sorry… aku tidak biasa mengatakan namaku pada orang asing…” Jalal menyahut cepat, “aku bukan orang asing. Lihatlah… aku juga orang India, kita satu suku bangsa, tinggal di negara yang sama...bagimana bisa menjadi orang asing? Ayolah… katakan namamu!” Jodha terpikir untuk mempermainkannya, “untuk apa kau ingin tahu namaku?” Jalal menjawab, “agar aku bisa memanggilmu..” Jodha tersenyum dan berniat pergi. Jalal berteriak lagi, “tunggu….! Baiklah kalau tidak mau memberitahuku namamu, tidak apa-apa. Tapi aku akan duduk di sana ~Jalal menunjuk bangku restoran pantai yang berada tak jauh darinya~ menunggumu… kalau kau berubah pikiran dan membutuhkan teman… aku ada di sana!” Jodha melirik Jalal sambil melambaikan tangannya lalu masuk kedalam kamarnya. Jalal masih menunggu di bawah, berharap Jodha akan keluar lagi. Tapi jangankan orangnya, bayangannya pun tidak kelihatan. Jalal akhirnya beranjak dan duduk di tempat duduk yang di tunjuknya tadi. Dari tempat itu, jalal bisa melihat kedalam kamar Jodha meski hanya sekilas saja.

Setelah berbincang-bincang dengan Jalal, Jodha segera merebahkan diri di tempat tidur dan langsung tertidur. Bangun-bangun saat hari sudah menjelang senja. Jodha keluar ke balkon. Berharap melihat pria unik tapi tampan yang menyapanya tadi. Jodha tersenyum sendiri karena harapan yang di milikinya. Jodha ingat pesan Jalal, dia segera menatap ke arah kursi yang ditunjuk Jalal tadi. Jalal sedang tertawa sambil melambaikan tangan kearah Jodha. Jodha menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Jodha masuk lagi kekamar. Kali ini untuk mandi. Setelah berendam di bathtub, tubuhnya terasa segar. Dengan celana jean dan t-shirt putih yang di lapisi kemeja polka dot lengan panjang di bagian luar, Jodha kembali keluar ke balkon untuk melihat matahari yang beranjak akan tenggelam. Sekali lagi, tanpa di sadari dia menatap ke arah Jalal, yang seperti tadi langsung tertawa dan melambai kearahnya. Jodha membalasnya dengan senyuman. Dalam hati kecil Jodha penasaran, juga.. siapa sih sebenarnya Jalal?

loading...

Popular posts from this blog

Bila Saatnya Tiba bag 27 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 39 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 35 by Sally Diandra