Loading...
Loading...

Bila Saatnya Tiba bag 31 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 31 by Sally Diandra. Pagi itu ketika Jodha terbangun dari tidurnya didapatinya Jalal sedang muntah muntah dikamar mandi, bergegas Jodha menyusul Jalal kekamar mandi “Sayang, ada apa ? kamu masuk angin ya ?” segera Jodha mengurut leher Jalal agar Jalal bisa merasa lebih nyaman, namun Jalal terus memuntahkan isi perutnya, hingga akhirnya setelah dirasa enakan Jalal bergegas membasuh mukanya “Aku ambilkan air putih ya …” tak lama kemudian Jodha sudah membawa segelas air putih untuk Jalal lalu diminumnya sampai habis air putih tersebut, “Lebih baik hari ini kamu nggak usah ngantor dulu, kamu pasti masuk angin” , “Aku nggak papa …” Jodha segera memotong ucapan Jalal, “Nggak papa gimana ? aku lihat tadi mukamu sampai merah padam gitu, sudah ayoo … tidur lagi aja, biar aku balur badanmu sama minyak angin” Jalalpun hanya menurut apa kata istrinya, dibaringkannya tubuhnya ditempat tidur dan dengan sigap Jodha langsung membalurkan minyak angin disekujur tubuh Jalal mulai dari punggung lalu berbalik di dada dan perut, Jodha menatap suaminya dengan penuh haru tak terasa tiba tiba Jodha menitikkan air mata.
 
ss bila saatnya tiba 12“Kenapa kamu menangis ?” Jodha segera menyeka ujung matanya yang baru saja hendak keluar, Jodha tersenyum kemudian didekatkan wajahnya kedada bidang Jalal sambil diciuminya perlahan dada bidang suaminya tersebut lalu direbahkannya kepalanya didada bidang Jalal sambil dibelainya rambut Jalal yang agak sedikit gondrong “Aku sedih kalau kamu sakit” , “Aku nggak sakit, aku baik baik saja, mungkin kecapean karena semalam” kemudian Jodha bangun dari dada Jalal dan didekatkan wajahnya ke wajah Jalal sambil dipegangnya wajah Jalal dengan kedua tangannya “Makanya jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain” , “Maksudmu … ?” Jalal sedikit tertegun kemudian dia baru menyadari kemana arah pembicaraan Jodha “Hey … ada yang cemburu pagi pagi begini …” , “Aku nggak cemburu, aku cuma mengingatkan tidak usah terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, apalagi dia istri orang, bisa bisa nanti kamu kena imbasnya” Jalal segera menggeser badannya dalam posisi duduk kemudian Jodha membantu Jalal mengenakan kaos oblongnya.
 
“Kemarilah …” Jalal segera menggeret lengan Jodha agar Jodha mendekat kearahnya, Jodhapun hanya menurut “Aku ingin kamu tahu bahwa aku hanya ingin menolongnya sebagai teman, aku prihatin, aku kasihan dengannya, jujur aku sebagai laki laki aku paling tidak suka KDRT, yaa … aku akui aku memang pemarah tapi aku selalu mencoba untuk mengerem tindakanku agar tidak menyakiti siapapun, apalagi istri yang paling aku cintai” Jalal membelai wajah Jodha, Jodha menatapnya dengan tatapan tanpa dosa “Jangan tatap aku seperti itu … “ Jalal segera mendekatkan wajahnya ke wajah Jodha, sesaat ketika hendak dikecupnya bibir Jodha tiba tiba kembali dia merasakan perutnya bergejolak, mualnya kambuh lagi, sambil menutup mulutnya Jalal segera berlari kembali menuju ke kamar mandi dan kembali dia muntah muntah disana, kejadian ini berulang terus beberapa kali, Jalal benar benar merasakan perasaan mual yang tidak menyenangkan yang belum pernah dia rasakannya selama ini. Melihat kondisi suaminya yang bertambah buruk, Jodha segera menghubungi dokter keluarga agar pagi pagi ini sebelum berangkat ke rumah sakit supaya mampir terlebih dahulu kerumah untuk mengecek kondisi Jalal dan sambil menunggu sang dokter, Jodha bergegas masuk ke dapur untuk membuat bubur ayam special buat Jalal sementara Jalal beristirahat dikamarnya.
 
Melihat Jodha sibuk didapur, bu Hamida yang saat itu baru pulang dari senam pagi segera menghampirinya “Pagi ini sarapan paginya apa Jodha ?” , “Ooh ibu … saya mau bikin bubur ayam buat Jalal, kasihan dari tadi muntah muntah terus” bu Hamida langsung kaget “Muntah muntah … ?” , “Iya ibuu … muntah muntah terus dari tadi, muntah terus selang beberapa menit gitu lagi, aku sampai kasihan melihatnya, makanya mau aku buatkan bubur ayam ini biar perutnya agak enakan” , “Lalu kamu sudah panggil dokter ?” Jodha langsung mengangguk, secepat kilat bu Hamida langsung menghambur keluar dapur menuju ke kamar Jalal dan dilihatnya Jalal sedang terbaring lemah sambil memejamkan matanya “Jalal … “ bu Hamida membelai rambut anaknya yang merah kecoklatan, Jalal segera membuka matanya dan tersenyum melihat ibunya kemudian ketika hendak merubah poisinya ke duduk “Sudah sudah … jangan, kamu sakit ya … kata Jodha kamu muntah muntah terus dari tadi, coba kamu ingat ingat semalam kamu makan apa yang sekiranya bisa bikin kamu jadi mual seperti tadi ?” , “Nggak papa, bu … aku mungkin kecapaian sedikit nanti juga baikkan kok dan lagi Jodha sudah menghubungi dokter Gulbadan, ibu tidak usah khawatir” , “Ya sudah, tapi hari ini lebih baik kamu tidak usah pergi kekantor dulu“ Jalal mengangguk namun tiba tiba kembali perutnya terasa mual yang tak tertahankan, bergegas Jalal bangkit dari tempat tidurnya dan berlari kearah kamar mandi, bu Hamida semakin khawatir dengan kondisi Jalal.
 
Sementara itu Jodha yang sedang memasak bubur ayam didapur langsung teringat kalau pagi ini dia ada janji dengan pak Khaibar dosennya, bergegas Jodha menelfon pak Khaibar untuk mengabarkan kondisinya saat ini, “Ya hallo, Jodha … selamat pagi” terdengar suara pak Khaibar diujung sana “Selamat pagi pak Khaibar, maaf sebelumnya saya mau mengabarkan bahwa pagi ini saya tidak bisa mengajar” Jodha mulai menjelaskan ke Mr. Khaibar “Oh iya, tidak apa apa, Jodha … kalau boleh saya tahu memangnya kenapa ?” , “Suami saya sakit, pak … jadi saya harus merawatnya” pak Khaibar langsung tercengang begitu mendengar kata suami dari bibir Jodha, karena bagaimanapun juga tidak dipungkiri kalau pak Khaibar ada hati dengan Jodha sejak Jodha duduk di semester pertama, hanya saja dia masih malu malu untuk mengungkapkan perasaannya apalagi ketika dirinya mengetahui bahwa Jodha sudah punya pacar Suryaban, pak Khaibar tau diri dan mundur teratur namun begitu mengetahui Suryaban dapat beasiswa kuliah di London, pak Khaibar merasa dirinya mendapatkan angin segar karena bisa kembali mendekati Jodha tapi kali ini begitu mendengar kalau Jodha telah bersuami, pak Khaibar jadi sedikit terkejut “Suami ? jadi kamu sudah menikah ?” , “Iya, pak saya sudah menikah, sudah 5 bulan ini” , “Tujuh bulan ? sudah cukup lama juga yaa, kalau boleh saya tahu apakah suamimu itu Suryaban karena yang aku dengar katanya kamu lagi dekat dengan dia” sesaat Jodha terdiam mendengar kata Suryaban “Suryaban, gimana kabarmu sekarang ?” sejak perpisahannya dengan Suryaban, dia sama sekali tidak pernah menghubungi Jodha, “Hallo Jodhaaa …” , “Oh iya, pak … maaf ini saya sambil masak bubur ayam, jadi konsentrasi buyar, gimana tadi pak pertanyaannya ?”, “Oh iya, nggak papa … saya hanya ingin tahu saja siapa nama laki laki yang beruntung memiliki kamu, yang jadi suamimu”, “Nama suami saya Jalal, pak” , ”Ooh bukan Suryaban kalau begitu ?” Jodha langsung tertawa kecil begitu mendengar pertanyaan pak Khaibar “Ceritanya panjang, pak … kalau begitu sudah dulu ya, pak karena masih banyak yang harus saya lakukan” , “Baiklah sampai ketemu besok, oh ya … titip salam untuk suamimu, semoga lekas sembuh, selamat pagi” , “Baik, pak nanti saya sampaikan, selamat pagi”, “Siapa itu ? pengagum beratmu ya ?” tiba tiba terdengar suara Syarifudin dari arah belakang, “Bukan, dia dosenku, tidak usah mengalihkan kasus yang ada, Syarif” ujar Jodha sambil terus mengaduk bubur ayamnya “Oke oke ... aku memang kalah dalam hal ini, tapi kalau boleh aku jujur ... sebenarnya aku juga suka sama kamu Jodha” Jodha segera memicingkan kedua matanya kearah Syarif sebagai tanda tidak suka dengan ucapannya “Jaga sikapmu, Syarif ... aku ini adalah kakak iparmu ! dan lagi kamu ini seharusnya bersyukur memiliki istri seperti Bhaksi, dia cantik, pintar, keibuan bahkan sekarang bisa memberikanmu seorang bayi yang lucu seperti Mehtab” , “Tapi dia tidak seperti kamu, Jodha”, “Maksudmu ?” Jodha mulai was was dengan ucapan Syarif “Aku sering melihatmu menari di aula samping, aku selalu membayangkan lekukan tubuhmu yang sungguh sangat mempesona, aku tidak heran kalau Jalal memilih kamu sebagai istrinya karena dia pasti juga punya pikiran yang sama seperti diriku, naluri laki laki” ujar Syarif sambil terus mendekati Jodha , “Syarif ! aku peringatkan jangan macam macam denganku atau aku siram bubur panas ini ke mukamu !” , “Jodha, kenapa kamu berkata seperti itu ? aku hanya mengungkapkan perasaanku saja, tidak lebih ... aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku adalah salah satu pengagum rahasiamu”, “Maaf, bu ... dokter Gulbadan sudah datang” tiba tiba salah satu pembantu rumah tangga mereka datang menghampiri Jodha “Oh iya, aku akan kesana, bibi tolong ini diaduk dulu ya, sebentar lagi hampir matang, kalau sudah matang tolong antarkan ke kamar bapak ya” Jodha segera berlalu dari sana, tidak digubrisnya Syarifudin yang menatapnya dengan tatapan aneh.
 
Dr. Gulbadan, dokter keluarga Jalal sejak Jalal masih kecil segera memeriksa Jalal yang masih terbaring lemah ditempat tidur, sementara Jodha yang berdiri di ujung tempat tidur memperhatikan suaminya dengan harap harap cemas, sedangkan ibu Hamida yang duduk bersebrangan dengan dokter Gulbadan berusaha tenang. “Ooh kamu tidak apa apa, Jalal ... bisa jadi karena kelelahan tapi aku beri kamu obat anti mual ya” dokter Gulbadan langsung menuliskan resepnya untuk Jalal “Tapi kenapa terlalu sering ya, dok ? padahal biasanya kan sekali muntah itu saja cuma sekali tapi kalo saya ini berulang kali, dok ... bahkan sampai tidak ada yang bisa dimuntahkan lagi tapi tetap saja terasa mual” dokter Gulbadan tersenyum sambil melirik kearah Jodha dan ibu Hamida “Ibu Hamida, aku pikir ... yang berobat seharusnya tidak hanya satu sekarang tapi harus dua” , “Maksud dokter ?” Jodha tidak mengerti arah pembicaraan dokter Gulbadan, sementara bu Hamida dan dokter Gulbadan saling memandang dan melirik kearah Jodha sambil tersenyum senang, sementara Jodha dan Jalal juga saling berpandangan dengan tatapan keheranan. .. Bila Saatnya Tiba bag 32 by Sally Diandra





loading...

Popular posts from this blog

Bila Saatnya Tiba bag 27 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 39 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 35 by Sally Diandra