Loading...
Loading...

Takdir bag 53 by Tahniat

Takdir bag 53 by Tahniat. Jodha sedang bersiap-siap pergi ke kantor ketika terdengar ketukan di pintu. Jodha menyangka Surya yang datang. Dia dengan gembira bergegas membukakan pintu. Tapi ternyata bukan Surya, yang berdiri di depan pintu apartemenya adalah seorang wanita yang usianya terlihat lebih muda dari dirinya. Wanita itu menatap Jodha dengan tatapan kaget dan heran. Jodha tersenyum dan menyapa, “hi…ada yang bisa ku bantu?” Wanita itu mundur kebelakang, melihat pintu apartemen di kanan kirinya, lalu menatap pintu apartemen Jodha. Dengan heran dia bertanya, “ini apartemen nomor 88 kan?” Jodha melirik nomor yang tertera di pintu apartemen dan mengangguk. Wanita itu dengan rasa ingin tahu bertanya, “ini apartemen Suryabhan Singh, kan? Kau siapa?” Tanpa menunggu di persilahkan, wanita itu menerobos masuk kedalam.
 
Dia menatap sekeliling ruangan dan berteriak memanggil surya. Jodha mengikutinya masuk kedalam, “Surya tidak tinggal di sini. Aku menyewa apartemen ini.” Wanita itu terngagah tak percaya, “Surya menyewakan apartemen kesayangannya? Pada orang asing?” Jodha tersenyum, “aku bukan orang asing. Aku temannya. Kau sendiri siapa?” Wanita itu mengerutkan keningnya, “kau mengaku teman Surya tapi tidak tahu siapa aku?” Di tuduh begitu, Jodha tersenyum malu, “aku teman masa kecilnya. Maaf, Surya tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya..” Wanita itu tersenyum lugu, “oh.. kau pasti bukan teman dekatnya. Tak apa… kenalkan, aku Sukanya. Aku calon tunangan Surya.” Jodha menyambut uluran tangan Sukanya.
 
FF Jodha akbar Destiny2“Sukanya, aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku harus pergi ke kantor..” ucap Jodha. Sukanya bertanya, “kau kerja di mana?” Jodha memberitahu Sukanya kalau dia kerja di Agra Collections, toko barang antik dan Souvernir. Sukanya semakin heran, “ph..aku salah! Kau pasti orang yang penting, sampai Surya mempekerjakanmu di tokonya dan membiarkanmu tinggal di apartemenya. Boleh aku tahu siapa namamu?” Jodha tersenyum, “Jodha.” Sukanya terbelalak tak percaya, “Jodha Kapoor?” Dengan ragu-ragu Jodha mengangguk. Sukanya terlihat gembira, tanpa aba-aba dia menghambur memeluk Jodha. Tubuhnya yang sintal dan berisi menghantam perut Jodha yang buncit. Jodha refleks membungkukan badan untuk mencegah benturan yang tidak inginkan.
 
Menyadari adanya benjolan di perut Jodha, Sukanya segera menarik diri sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menutupi rasa kaget, “kau hamil?” Jodha mengangguk. Dengan nada menuduh Sukanya bertanya, “bukan anak Suryabhan Singh kan?” Jodha mengangkat alisnya dan tertawa, “tentu saja bukan.” Sukanya menghela nafas lega, “syukurlah. Aku takut! Surya pernah bilang padaku kalau dia menyukaimu dan pernah berpikir untuk menikahimu. Untungnya kau sudah menikah dengan orang lain. Kalau tidak, aku pasti tidak punya peluang untuk menjadi calon tunangannya.” Jodha tertawa. Sukanya cemberut, “kau pasti menertawakan aku. Tertawalah! Tapi walaupun baru calon tunangan, aku sudah senang. Aku mencintai Surya sejak aku SMA. Kau pasti tidak tahu bagaimana rasanya mengejar pria yang kau impikan. Penuh tantangan, butuh perjuangan dan kadang-kadang harus berkorban perasaan. Seperti saat ini. Kalau mau ikuti perasaan, hatiku cemburu padamu. Tapi aku tahu, kalau kau mau, kau sudah menjadi istri Surya sejak dulu. Jadi aku mencoba untuk menepis kecemburuanku padamu..”
 
Jodha tertawa, “senang berbicara denganmu Sukanya. Tapi aku harus pergi kerja. Kalau kau mau, kau bisa tinggal disini…..” Sukanya bertanya, “kau percaya padaku?” Jodha mengangguk, “kau calon tunangannya Surya, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayaimu.” Sukanya mengendikan bahu, “kau tahu aku sangat lelah. Di kereta tadi aku tidak bisa istirahat karena terlalu excited mau ketemu Surya. Boleh kah aku tiduran di sofa? Aku ngantuk sekali.” Jodha mengangguk cepat, “tentu saja boleh. Kau bisa tidur di kamar. Kalau kau mau mandi, ada handuk bersih di lemari toilet. Kalau kau lapar, ada makanan di kulkas. Buatlah seperti di rumahmu sendiri. Aku pergi dulu.” Sukanya menghempaskan pantatnya di sofa sambil berkata, “sampai jumpa.” Jodha menatapnya sambil tersenyum dan mengeleng-ngelengkan kepala melihat spontanitasnya.
 
Jodha baru akan melangkahkan kakinya ke dalam toko, ketika Surya dengan senyum sumrigah menyambutnya. Surya membantu memegangi pintu ketika Jodha masuk. Jodha tersenyum dan menyapa, “kapan kau kembali? Cepat sekali.” Surya mengerutkan keningnya dan bertanya dengan nada merajuk, “Kenapa? Kau tidak senang melihatku?” Jodha tertawa. Surya menjejeri langkah Jodha menuju ke kantornya. Setelah sampai di kantor, Jodha meletakan tasnya di meja dan berdiri menyender di meja. Surya berdiri di depannya. Jodha mengoda Surya sambil memicingkan mata, “kupikir kau akan jalan-jalan dulu di Delhi, menikmati kehidupan malamnya.” Surya pura-pura mendengus kesal, “hah..! Seperti kurang kerjaan saja.” Jodha tertawa. Sambil beranjak keluar, Jodha berkata, “duduklah, aku akan buatkan nescafe untukmu.” Surya mau menolak, tapi Jodha sudah melangkah pergi. Tak lama kemudian Jodha kembali dengan dua cangkir nescafe di tangannya. Dia mengulurkan salah satu cangkir itu pada Surya lalu menyeruput nescafe miliknya.
 
Surya menerima nescafe yang di sodorkan Jodha dan ikut-ikutan menyeruputnya. Setelah itu dia meletakkan cangkir nescafe di meja dan menatap Jodha yang sudah duduk di belakang meja, sambil membuka-buka kertas kerjanya. Surya memanggil, “Jodha, kau tidak ingin bertanya sesuatu padaku?” Jodha mengangkat wajahnya menatap Surya. Dia tahu apa yang di maksud Surya. Jodha menggeleng lalu kembali menatap catatan-catatan yang ada di depannya.
 
“Dia terlihat baik-baik saja, dari luar. Sikapnya sangat baik, ramah, dia bahkan menawariku untuk menginap di rumahnya. Yang tentu saja aku tolak. Aku pernah membaca, seorang pria yang merana karena di tinggal pergi oleh wanita yang di cintainya terkadang mengalami penyimpangan…” Surya tak melanjutkan kata-katanya ketika melihat Jodha melotot kearahnya dengan tatapan tak terima. Surya tertawa, “tentu saja, Jalal tidak akan seperti itu. Dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan untuk melampiaskan kesepiannya.” Jodha tidak tahan untuk tidak berkomentar, “dia tidak membutuhkan wanita lain. Dia punya Ruqaiya.” Jodha menyebut nama Ruqaiya dengan suara getir. Surya tersenyum, “mana ada Ruqaiya? Jalal sendirian di rumahnya.” Jodha menatap Surya dengan heran, tapi tidak bertanya lebih jauh, karena dia tahu, itu hanya akan membuka kembali luka di hatinya.
 
Jodha teringat pada Sukanya. Dengan tatapan mengoda, Jodha bertanya, “kau sudah akan bertunangan, tapi tidak bercerita padaku. Kenapa?” Surya mengangkat alisnya, “apa maksudmu?” Jodha menyebut nama Sukanya. Surya terbelalak kaget, “darimana kau tahu tentang dia?” Jodha mencibirkan bibirnya dan dengan ketus berkata, “tentu saja dari yang bersangkutan. Tega sekali kau padaku! Kita berteman, tapi kabar baik begitu rupa kau sembunyikan dariku.” Surya dengan gagap menyahut, “aku…aku…tidak..” Jodha tertawa, “Sukanya ada di rumah. Dia datang tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor. Mungkin kau ingin menemuinya?” Surya bertanya, “dia langsung dari London?” Jodha balik bertanya, “dia tinggal di london? Tapi dia bilang naik kereta api.” Surya mengangguk paham, “oh… berarti dia dari Simla. Sukanya sudah menamatkan kuliahnya di London, beberapa bulan lalu. Tapi dia menolak kembali ke India kalau aku tidak menjemputnya. Sekarang dia ada di india. Pasti banyak komplain yang akan aku terima. Sebelum dia menduga yang tidak-tidak tentang kita, ada baiknya aku segera menemuinya.” Surya berdiri dari duduknya dan melirik Jodha, “tapi tentu saja kalau kau tidak keberatan..” Jodha menggeleng, “tentu saja aku tidak keberatan. Pergilah!”
 
Sukanya setengah terlelap di sofa ketika dia mendengar suara pintu di buka. Cepat-cepat Sukanya menoleh kearah pintu. Dia langsung terlonjak berdiri ketika melihat Surya dan bergegas menghambur memeluknya. Surya menyambut pelukan Sukanya dengan tak kalah gembiranya. Dengan mesra, Surya mengacak-acak rambut Sukanya sambil berkata, “hurm… apa yang kau lakukan di sini? Apa kau marah-marah pada Jodha?” Sukanya menarik tangan Surya agar duduk di sofa, “hampir saja. Tapi..tidak! Wajah cantiknya tidak menampakkan tanda-tanda kalau dia wanita pengoda. Karena itu aku bersikap ramah padanya.” Surya terbelalak marah, mendengar kata-kata Sukanya tentang Jodha. Tapi sebelum Surya mengatakan sesuatu, Sukanya menutup mulut Surya dengan bibirnya. Sukanya mengulum bibir Surya dengan mesra. Surya membalasnya. Lama mereka berciuman sampai kehabisan nafas. Setelah puas melampiaskan kerinduan, Sukanya memberitahu Surya tujuannya ke Agra.
 
“Aku hanya singgah sebentar di sini, nanti sore aku harus berangkat ke Delhi untuk wawancara kerja.” jelas Sukanya. Surya bertanya, “kenapa sibuk mencari kerja? Kalau kau mau kau bisa bekerja dia perusahaanku.” Sukanya menjawab, “aku tidak mau. Waktu di london aku menemukan lowongan kerja di salah satu perusahaan yang paling bonafid di India. Setidaknya, sebelum menikah, aku ingin bekerja. Dan kau tidak berhak melarangku!” Surya melirik jenaka, “siapa yang mau melarangmu. Tapi katakan padaku, apa nama perusahan itu? Mungkin aku kenal pemiliknya…” Sukanya dengan tegas berkata, “tidak! Aku tidak ingin adanya nepotisme dalam percobaan pertamaku. Aku ingin di terima di perusahaan itu karena usaha dan kemampuanku sendiri. Itu akan jadi kebanggaan seumur hidupku.” Surya berdiri sambil mengangkat bahu, “terserah kalau begitu. Tapi kapanpun kau membutuhkan bantuanku, katakan saja. Aku punya banyak koneksi di Delhi, yang pastinya akan dengan senang hati menerimamu bekerja di perusahaannya.” Sukanya mengejek surya dengan meleletkan lidah. Surya tertawa….. Takdir bag 54
 
Precap: Ternyata Sukanya melamar kerja di Singhani Corp. Jalal sendiri yang akan mewawancarai Sukanya di Ruanganya. Sukanya melihat potret Jodha di atas meja kerja Jalal….
 
loading...

Popular posts from this blog

Bila Saatnya Tiba bag 27 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 35 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 39 by Sally Diandra