Loading...
Loading...

Bila Saatnya Tiba bag 49 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 49 by Sally Diandra. Nigar sudah sampai didepan pintu ruang kerja Jalal, dirasakannya tangannya basah ketika membawa cangkir kopi untuk Jalal, kemudian diketuknya pintu ruang kerja Jalal perlahan, dari arah dalam ruangan terdengar suara Jalal yang menyuruhnya masuk, dari kejauhan bibi Maham Anga memperhatikan dirinya sambil mengacungkan kedua jempolnya dengan senyumannya yang lebar, Nigar bergidik melihatnya kemudian dibukanya pintu ruang kerja Jalal, dilihatnya Jalal masih asyik dengan laptopnya, Nigar cukup lama diam mematung memperhatikan Jalal ketika sudah menutup ruangan tersebut “Apa yang harus aku lakukan ? Apakah aku harus melaksanakan perintah bibi Maham Anga ?” bathinnya dalam hati, sesaat dirabanya disaku celananya yang sebelah kanan, obat semprotnya masih aman ada disana, kemudian beralih ke saku celananya yang terletak dibelakang, ponselnya juga masih aman disana, perlahan Nigar mendekati Jalal “Ooh Nigar, taruh disini saja kopinya !” Jalal menunjukkan pada salah satu ruang yang kosong dimeja kerjanya, sementara kembali dia fokus pada laptopnya, Nigar kemudian meletakkan kopi itu secara perlahan ditempat yang ditunjuk oleh Jalal “Terima kasih, Nigar” Nigar hanya mengangguk kemudian dia tetap berdiam diri ditempatnya berdiri, cukup lama Nigar berdiri disana hingga akhirnya Jalal menyadari keberadaannya “So ... Apa ada yang bisa aku bantu, Nigar ?” Nigar hanya diam sambil menggelengkan kepalanya lemah “Lalu, kenapa kamu masih berdiri disana ? Apa ada yang ingin kamu katakan ?” Nigar kembali menggelengkan kepalanya sambil tertunduk “Oooh aku tahu ... Kamu ingin aku ss bila saatnya tiba 12minum kopi ini kan ? Untuk memastikan apakah kopi ini enak atau tidak, bukan begitu ?” Nigar bingung dan gelisah, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Jalal, ingin rasanya dia mengatakan pada Jalal agar jangan meminum kopi itu, tapi mulutnya seakan terkunci, Nigar bungkam seribu bahasa, perasaannya campur aduk jadi satu antara bingung, gelisah, takut, marah dan kasihan, Nigar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah Jalal meminum kopi itu, ketika Jalal hendak mencicipinya sedikit tiba tiba “Jangan, kak !” Jalal terkejut melihat perubahan sikap Nigar “Ada apa Nigar ? Jangan apa ?” Nigar bingung “Jangan minum kopi itu ... Kopi itu masih panas, kak ... Nanti lidah kakak terbakar”

Jalal hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian dia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat kearah Nigar yang masih berdiri sambil tetap memegang cangkir kopinya itu “Bukankah paling nikmat kalau menikmati kopi dengan kondisi yang masih panas dan hangat hangat kuku ?” Nigar hanya diam saja sambil terus menunjukkan sikap cemas “Ada apa, Nigar ? Ada yang ingin kamu katakan ? Katakan saja, siapa tahu aku bisa membantumu, oh yaa ... Kalau masalah dana, kamu nggak usah khawatir, kamu katakan saja apa saja keperluan kamu, kamu tidak usah sungkan, kamu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, jadi kamu nggak usah merasa enggan ke aku” Nigar yang sedari tertunduk membisu kemudian mendongakkan kepalanya dan melihat kearah Jalal yang persis pada saat itu Jalal sudah hampir menyeruput kopi buatan bibi Maham Anga, secepat kilat Nigar langsung menampar cangkir kopi tersebut hingga terjatuh dan membasahi karpet yang berada dibawahnya dan juga membasahi baju Jalal, Jalal bingung dan marah seketika itu juga ke Nigar “Nigar ! Apa apaan kamu ini ?”, “Maafkan aku, kak ... Maafkan aku ... Aku memang salah, tapi sebelum kakak marah ke aku karena perbuatanku tadi, aku harap kakak mau mendengarkan ini” Nigar kemudian mengambil ponselnya dari saku belakang celananya dan memencet tombol play pada rekaman suara bibi Maham Anga kemarin lalu diberikannya ke Jalal, Jalal menatapnya penuh dengan pandangan curiga dan marah, namun diturutinya permintaan Nigar dan didengarkannya semua percakapan Nigar dengan bibi Maham Anga, setelah selesai Jalal murka, amarahnya memuncak “Lalu dimana dia, Nigar ?”, “Dia ada diluar, kak ... Rencananya begitu aku teriak maka dia akan masuk ke ruang kerjamu ini untuk memergoki kamu” Jalal sudah tidak tahan lagi, dirinya tidak percaya kalau bibinya yang dihormatinya selama ini telah menyusun sebuah rencana jahat untuk menjeratnya kepenjara “Kalau begitu teriaklah, Nigar ... Agar dia masuk kemari, aku akan menghadapi dia, kamu tidak usah takut, aku akan melindungi kamu”

Nigar menuruti perintah Jalal tak lama kemudian Nigarpun berteriak kencang, diluar bibi Maham Anga yang sedari tadi mondar mandir didepan ruang kerja Jalal dengan perasaan was was akhirnya mendengar teriakan Nigar yang ditunggu tunggunya sedari tadi, bibi Maham Anga tersenyum senang dan bergegas menuju ke pintu ruang kerja Jalal dan segera membuka pintu tersebut sambil mempersiapkan dirinya untuk berpura pura bersandiwara “Ada apa, Nigar ?” bibi Maham Anga sudah menyiapkan dirinya untuk memasang tampang terkejut namun ternyata ketika dibukanya pintu ruang kerja Jalal, bibi Maham Anga kali ini benar benar terkejut dengan apa yang dilihatnya didepannya, Jalal sudah menantinya disana dengan memasang muka marah dan garang, sementara Nigar berdiri dibelakang Jalal dengan muka ketakutan dan gelisah “Kenapa kamu lakukan semua ini padaku, bibi ?” bibi Maham Anga pura pura tidak mengerti “Melakukan apa, Jalal ? Aku tidak mengerti ? Ada apa Nigar ?” bibi Maham Anga mencoba tersenyum kikuk sambil mencari jawaban kearah Nigar “Tidak usah pura pura, bibi ... Aku sudah tahu semuanya, bibi ! Aku sudah punya buktinya bahwa kamu sudah menyusun semua rencana busukmu ini !”, “Merencanakan apa, Jalal ? Aku tidak mengerti ?”, “Baik agar kamu mengerti biar aku perjelas, kamu ingin menjebloskan aku kepenjara kan ? kamu ingin menjebakku agar aku memperkosa Nigar, sehingga kamu bisa menguasai seluruh hartaku melalui Nigar karena dia telah mendapat surat waris dari ayahku, teganya kamu, bibi !” bibi Maham Anga masih berkelit pura pura tidak tahu apa apa “Jangan salah sangka, Jalal .... Siapa yang akan menjebakmu, aku tidak ...”, “Cukup bibi !” Jalal segera memotong ucapan bibi Maham Anga

“Agar lebih jelas kamu bisa mendengar bukti rekaman ini dan sebentar lagi polisi juga akan datang untuk menangkapmu karena kamu ternyata juga telah membunuh ibu Nigar !” bibi Maham Anga langsung terperangah mendengar ucapan Jalal sambil menutupi mulutnya dengan tangannya, apalagi ketika Jalal memencet tombol play di rekaman Nigar kemarin, bibi Maham Anga semakin membelalakan matanya dan gelisah, bibi Maham Anga tidak sadar bahwa percakapannya kemarin direkam oleh Nigar, Nigar telah menusuknya dari belakang. Belum juga usai rekaman itu diputar, bibi Maham Anga segera mengeluarkan pistol yang sudah dibawanya dari tadi “Ahaaa ... Aku belum kalah, Jalal ! Aku sudah memprediksikan hal ini selain plan A pasti selalu ada plan B dan ini adalah plan B yang sudah aku siapkan, kamu harus mati, Jalal ! Kamu harus membayar semua perbuatan ayahmu yang telah dia lakukan terhadapku !” Jalal berusaha tenang ketika bibi Maham Anga mengacungkan sebuah pistol kearahnya “Bibi, apakah bibi tidak sadar, selama ini ayahku telah memberikan segalanya untuk kamu, adik kandung satu satunya, tapi semua kamu habiskan di meja judi dan pesta pestamu itu, bibi tidak menyadari kalau selama ini ayahku berusaha untuk memenuhi semua keinginanmu”, “Aaaah omong kosong ! Kamu tahu apa ! Kamu itu cuma bocah ingusan yang kebetulan adalah anak kakakku ! Seharusnya semua kekayaan ini adalah milikku ! Akulah yang berhak menerimanya bukan kamu ! Aku sakit hati Jalal ketika ayahmu mengusir aku dari rumah ini ! Kamu tahu dimana aku tinggal ? Kamu pasti tidak bisa membayangkannya Jalal, setiap hari aku menjadi tukang pijat ! Kamu dengar ? Itu sangat menyakitkan buat aku, Jalal”, “Itu semua salahmu, bibi ...” Jalal mencoba mengingatkan bibi Maham Anga, sementara Nigar masih berlindung dibalik punggung Jalal sambil memandang ketakutan kearah bibi Maham Anga “Itu bukan hanya salahku, Jalal ! Itu juga salah ayahmu ! Kalau ayahmu tidak mengusir aku, semua ini tidak akan terjadi dan lagi aku tidak perlu mengacungkan senjataku seperti ini ke arahmu, iya kan ?” bibi Maham Anga tertawa terbahak bahak “Sebenarnya buat apa aku mengacungkan senjata ini pada keponakan tersayangku, tapi aku harus melakukannya !” tiba tiba ekspresi muka bibi Maham Anga berubah dari tersenyum berubah marah dengan tatapan bola matanya yang tajam menghujam kearah Jalal dan Nigar.

Tiba tiba saja sebuah peluru timah melesat dari arah pistol bibi Maham Anga tepat mengarah ke jantung Jalal, Nigar yang berada dibelakang Jalal langsung mendorong Jalal agar menjauh dari peluru tersebut “Awaaaaassss, kaaaaaak !!!!” Jalal terdorong kesamping hingga jatuh terjerembab namun sayangnya pelor panas tersebut tetap mengenai sasarannya melesak ke lengan atas Nigar, Nigarpun terkulai lemas disamping Jalal “Nigaaaaaarrr !!!!” bibi Maham Anga tertawa terbahak bahak, lalu ketika hendak dilesakkan kembali peluru kedua, Jalal segera menggeret Nigar ke arah meja kerjanya dan berlindung dibalik meja kerjanya “Kamu tidak bisa bersembunyi dari aku, Jalal ! Kamu harus mati ! Keluarlah Jalal !” bibi Maham Anga kembali melesakkan pelurunya ke arah meja kerja Jalal namun untungnya tidak mengenai Jalal ataupun Nigar, sementara Nigar mengeryit kesakitan menahan lukanya yang mulai berdarah, nafasnya mulai tersengal sengal, dadanya terasa sakit, nafasnya terasa tercekik hingga mengeluarkan bunyi yang menyedihkan, Jalal panik melihat keadaan Nigar “Nigar kamu kenapa ?” bibi Maham Anga tertawa terbahak bahak “Sebentar lagi dia akan mati, Jalal ! Nigar itu punya penyakit asma, kalau dia tidak segera mengkonsumsi obat semprotnya maka dia akan mati secara perlahan !” Jalal iba melihat kondisi Nigar yang mulai berkeringat dengan nafas tersengal sengal sambil mencari cari obat semprotnya “Dimana obatmu ? Kamu membawanya ?” Nigar meraba raba saku celananya dan segera diambilnya obat semprot asmanya namun ketika hendak disemprotkan, tidak ada cairan apapun yang keluar dari sana “Kenapa kamu Nigar ? Kenapa kamu diam saja ? Obat semprot asmamu habis ? Jelas saja habis ! Karena aku sudah membuang semua isi obat semprotmu itu ! Seperti itulah cara ibu kamu meninggal, kalau kamu juga ingin merasakannya ! Itulah akibatnya kalau kamu tidak menuruti perintahku Nigar ! Sebentar lagi kamu akan bertemu dengan ibumu, kamu akan mati !” kembali bibi Maham Anga tertawa terbahak bahak “Nigar bertahanlah, kamu tidak boleh mati ! Kamu harus kuat ! Aku akan mencari cara untuk melumpuhkan nenek tua itu !” bisik Jalal

Tepat pada saat itu sirene mobil polisi meraung raung diluar, kesempatan ini segera Jalal gunakan untuk membekuk bibi Maham Anga yang mulai kelimpungan begitu mendengar suara sirene polisi diluar rumah, Jalal langsung koprol dibawah lantai dan segera menendang tangan bibi Maham Anga yang membawa pistol, pistol itupun lepas dari genggamannya, bibi Maham Anga terperanjat dan secepat kilat polisi langsung mengamankan bibi Maham Anga yang saat itu hanya terbengong bengong seperti orang tidak waras “Aku tidak melakukannya pak polisi, bukan aku ! Itu bukan aku !”, “Hal itu bisa anda katakan nanti dipengadilan, nyonya ... Mari ikut kami !”, “Tolong segera panggilkan ambulan, pak ! Adikku terluka !”, “Tenang, pak ! Ambulance sudah siap didepan, kami memang berjaga jaga kalau ada yang terluka !” tak lama kemudian Nigar pun dibawa masuk kedalam ambulance sambil diberi oksigen dan segera dilarikan ke rumah sakit bersama Jalal, sementara bibi Maham Anga digiring polisi masuk kedalam mobil polisi. .. Bila Saatnya Tiba bag 49 by Sally Diandra

loading...

Popular posts from this blog

Bila Saatnya Tiba bag 27 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 39 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 35 by Sally Diandra