Loading...
Loading...

Rendezvous - Prolog by Sally Diandra

RENDEZVOUS PROLOG. Malam itu angin di kota Jakarta bertiup cukup kencang, tanpa terasa bau tanah basah yang mulai menyengat selalu memberikan kesegaran tersendiri diindera penciuman Jodha, bau tanah basah akibat gerimis malam itu, yang berasal dari taman mini diarea balkon sebuah hall besar disebuah hotel, sedikit membuat hati Jodha merasa nyaman daripada berada didalam hall, mendengar hingar bingar musik yang menghentak dengan keras. Ini adalah pesta sosialita pertama Jodha setelah seminggu dia bekerja bersama Madam Benazir, mantan pemain film panas papan atas yang sudah beberapa tahun ini mengundurkan diri dari industri perfilman setelah menjadi istri kedua seorang pejabat teras eselon 1 dan lebih memilih concern mendirikan bisnisnya sendiri sebuah bisnis event organizer khusus untuk kaum the have. Kalau boleh memilih, sebenarnya Jodha tidak ingin bekerja sebagai asisten pribadi Madam Benazir, namun apa daya saat itu dari beberapa lamaran pekerjaan yang dia kirimkan, Madam Benazirlah yang memanggilnya pertama kali dan menawarkan sebuah gaji yang cukup fantastis plus paket bonus yang lain yang cukup bisa untuk mencicil hutang kedua orangtuanya yang cukup mencekik leher.


“Kamu harus mengambil kesempatan ini, Jodha ! Kesempatan ini tidak akan datang dua kali, darimana kamu dapat gaji sebanyak itu ? Kalau tidak bekerja pada mantan bomsex itu !” kata kata pak Bharmal, ayah Jodha masih terngiang dengan jelas ditelinganya “Jangan begitu kasar pada Jodha, ayah” ibu Meinawati mencoba membela Jodha, yang saat itu sebenarnya ingin sekali menolak pekerjaan yang ditawarkan oleh Madam Benazir “Tapi aku tidak suka dengan kehidupan glamour, ayah ... kepalaku selalu pusing kalau melihat kilauan lampu dan hentakan musik yang hingar bingar ditelinga, sementara pekerjaan ini pasti tidak akan jauh jauh dari hal itu”, “Kamu selalu alasan ! Kalau kamu tidak bekerja disana lalu darimana kita akan dapat uang untuk membayar semua hutang hutang ayah ? Apalagi rumah ini akan disita, Jodha ! Kamu tahu itu !” sesaat Jodha sedikit bergidik mendengar bentakan ayahnya yang cukup menggelegar ditelinganya. Sebagai anak ke empat dari lima bersaudara, Jodha merasa perlu bertanggung jawab untuk kesejahteraan ayah dan ibunya, karena ketiga kakaknya yang telah berkeluarga tidak bisa Jodha harapkan sepenuhnya untuk membantu persoalan keuangan ayahnya, kakak laki lakinya yang pertama Bhagwandas saat ini baru saja merintis sebuah usaha baru yang membutuhkan modal cukup banyak, sedangkan kakak laki lakinya yang kedua Maharana Pratap baru saja kena PHK dari kantornya karena adanya perampingan pegawai, kemudian kakak perempuannya yang ketiga Kaushalia saat ini saja sudah dipusingkan dengan biaya perawatan anaknya yang menderita autis, jadi hanya dirinya harapan satu satunya yang bisa membantu ayahnya sementara adiknya yang paling kecil Sukaniya saat ini baru saja kuliah semester lima, walaupun juga ikut membantu menambah penghasilan rumah tapi hasilnya tidak seberapa dari pekerjaan partime yang dilakoninya sebagai seorang pelayan restaurant cepat saji.
“Jojo ... disini kamu rupanya” Jodha segera mengenali suara sexy yang memanggilnya dengan sebutan Jojo, yang tidak lain adalah majikannya Madam Benazir “Ada apa, Madam ? Apa masih ada yang kurang ?”, “Tolong carikan aku rokok, rokokku habis, kamu bisa mencarinya direstaurant sini atau dimana terserah kamu, whatever ! Yang penting begitu kamu dapat, kamu harus segera menemuiku di mini bar di sudut ruangan ini, aku ada disana, cepetan !”, “Iiiiya Madam ...” Madam Benazir segera berlalu dari hadapan Jodha dengan langkah gontainya yang selalu membuat decak kagum para kaum adam. “Huuffffttt ! Beli rokok ? Apakah itu salah satu perkerjaan yang harus dilakukan oleh seorang asisten pribadi ?” Jodha menggerutu dalam hati, dipaksakannya kakinya melangkah menuju lift dan turun kebawah menuju lobby hotel, dari salah satu resepsionis yang berjaga malam itu, Jodha mendapat informasi bahwa ada sebuah toko kelontong mini didalam hotel yang menyediakan berbagai macam kebutuhan tamu tamu hotel, termasuk rokok. Setelah mendapatkan rokok yang biasa dikonsumsi oleh majikannya, Jodha segera menuju ke lift dan naik kembali ke hall dimana Madam Benazir menunggu disana “Kamu harus segera menemuiku di mini bar di sudut ruangan ini, aku ada disana” Jodha teringat ucapan Madam Benazir.
Bergegas Jodha segera mencari mini bar begitu sampai dihall tersebut, Jodha berjalan berkeliling mencari sosok majikannya, hall tempat para sosialita itu berpesta tampak penuh dengan orang orang berbadan tinggi, beberapa model manca negara sengaja didatangkan untuk menambah kesan glamour event malam ini dan dengan tinggi badan rata rata plus sepatu hak rendah yang cocok dikenakannya untuk berjalan kesana kemari demi memenuhi tuntutan pekerjaannya hari ini, memaksa Jodha untuk berjinjit berusaha mencari keberadaan mini bar yang disebutkan oleh Madam Benazir, tak lama kemudian Jodha berhasil menemukan dimana majikannya itu berada, bergegas Jodha segera menghampiri sang majikan dengan menyeruak diantara kerumunan jutawan yang sedang berkumpul didepannya, begitu Jodha melintas, semua mata tertuju pada Jodha yang mungkin merasa aneh dengan penampilannya malam ini, dimana semua wanita mengenakan gaun malamnya yang beraneka warna sementara Jodha dengan santainya mengenakan setelan blouse dan span selutut bermotif garis garis yang berwarna senada coklat muda dan coklat tua dengan rambut yang ditekuk kedalam menyerupai sanggul plus kacamata minus yang nangkring diujung hidungnya.
Begitu sampai ditempat Madam Benazir, didapatinya majikannya itu sedang berusaha keras memikat seorang pria, sepertinya pria itu bukan pria sembarangan, ketika Jodha melihatnya dengan jelas dari balik punggung Madam Benazir, jantung Jodha mulai berdegup kencang untuk sejumlah alasan, karena bagaimanapun juga pria yang ada didepannya kali ini adalah seorang pria yang terkenal telah berhasil menyelamatkan orang orang terkaya di Indonesia dari bencana kebangkrutan dalam berbisnis, dia adalah Jalalludin Muhammad Akbar, pakar finansial genius, diusianya yang cukup muda, dia telah meramalkan krisis ekonomi beberapa tahun yang lalu yang melanda dunia bahkan diapun telah mengalihkan seluruh uangnya kebeberapa perusahaan yang selalu mendatangkan laba bahkan pada saat resesi. Jodha mematung dibelakang Madam Benazir sambil terus menatap kearah pria tersebut, gejolak emosi tiba tiba menyentak seluruh raganya, amarah, sakit hati, kebencian atas ketidakadilan dimana melihat yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin terpuruk hingga melarat terutama kedua orangtuanya yang terjerat utang yang tak mampu mereka bayar sementara pria didepannya kali ini, diatas segalanya, Jodha merasa semakin benci dengan nasib yang dialaminya ini dan yang membuat pergolakan bathin Jodha semakin kuat adalah betapa tampan dan mempesonanya wujud asli pria yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Jalal. Dengan rambut merah panjang sebahu yang dikucirnya sedikit kebelakang, mata coklat berkilat, wajah jantan yang sangat kuat dengan kumis tebalnya melengkapi penampilan fisiknya yang dibalut dalam setelan jas warna abu abu dengan kemeja merah maroon plus dasi abu abunya yang sempurna yang nampak cocok sekali dibadannya. “Pria ini benar benar punya segalanya !” bathin Jodha dalam hati, dirinya semakin kesal dengan kenyataan pria didepannya ini menarik secara sensual baginya dan tidak diragukan lagi semua wanita pasti bertekuk lutut pada pesonanya.
Tanpa Jodha duga ternyata pria bernama Jalal tersebut tiba tiba mengalihkan perhatiannya dari Madam Benazir lalu mengarahkan pandangan tajamnya dengan penuh tanda tanya kebalik bahu Madam Benazir dan menusuk tepat kearah Jodha, Jodha salah tingkah dibuatnya “Apakah dia tahu kalau aku sangat kesal dengan dirinya, kesal karena semuanya bisa dia dapatkan dengan mudah dari mulai ketampanan hingga ketenaran” Jodha bertanya tanya dalam hati, sementara Jalal segera mengangkat alis matanya yang hitam dan sexy yang seolah olah bertanya tentang kehadiran Jodha, sedangkan Madam Benazir yang melihat Jalal mulai terusik dengan kehadiran seseorang dibelakangnya, segera menoleh dan dilihatnya Jodha sedang berdiri mematung dibelakangnya “Oooh kamu rupanya ? Sudah dapat rokoknya ?” Jodha segera memberikan bungkusan rokok ditangannya itu ke Madam Benazir “Yaa sudah sana pergi ! Dan ingat yaaa jangan jauh jauh dari aku, siapa tahu aku butuh kamu lagi, supaya gampang nyarinya”, “Iyaa Madam, saya pamit dulu”
Ketika Jodha hendak beranjak pergi dari hadapan mereka tiba tiba Jalal mulai angkat bicara “Tunggu !” tiba tiba Jalal turun dari kursi putarnya menghampiri Jodha, salah satu lengannya terjulur seperti hendak meraih Jodha, namun Jodha segera mundur selangkah, Jalal tersenyum menunjukkan bibirnya yang terukir sempurna mengembang dengan sederetan gigi yang putih yang langsung membuat Jodha bertekad bahwa pria didepannya ini tidak akan pernah bisa menciumnya betapapun memukaunya dia, Jodha bersumpah dalam hati. “Kita belum berkenalan, namaku Jalal, kamu ?”, “Jojo ! namanya Jojo, darling” belum sempat Jodha menyebut namanya, Madam Benazir sudah mengenalkan nama panggilan dari majikannya itu sambil tetap berada dikursi barnya menghadap ke arah Jodha, sementara Jalal berada tepat disamping Madam Benazir “Jojo ? Nama yang unik, aku akan selalu mengingat nama itu, nama yang tidak biasa”, “Itu nama panggilannya, Jalal ... nama aslinya bukan itu, siapa nama aslimu Jojo ?” Madam Benazir mengangkat alisnya yang sebelah dengan sikap bossy dan sombongnya “Harka Jodha Bai”, “Namanya bagus juga, kenapa kamu manggilnya Jojo, Benazir ?”, “Nama Jojo lebih menjual untuk seorang asisten pribadiku, darling ... dia itu asisten pribadiku” ujar Madam Benazir dengan nada meremehkan, Jalal hanya mengangguk anggukkan kepalanya “Iya aku tahu, aku bisa melihatnya dari penampilannya, sebuah pemandangan yang selalu bisa membuatmu lebih menonjol, dari dulu kamu memang tidak suka kan kalau asisten pribadimu lebih cantik daripada kamu, Benazir ?” ujar Jalal sambil terus memperhatikan penampilan Jodha dari atas kebawah, Madam Benazir tertawa terbahak bahak, sedangkan Jalal tersenyum tanpa dosa kearah Jodha “Bisa bisanya mereka berdua menilai penampilanku !” Jodha hanya diam membisu melihat ulah mereka, kesal dan geram dalam hati itulah yang dirasakannya saat ini “Tapi suatu saat nanti kalau aku memutuskan jadi berbisnis denganmu, Benazir ... Asistenmu ini yang mungkin pertama kali aku hubungi” ujar Jalal sambil terus menatap kearah Jodha dengan sorot matanya yang tajam “Senang berkenalan dengan anda tuan Jalalludin Muhammad Akbar” ujar Jodha ketus sambil membalas memandang kearah Jalal “Oooooh ... kamu telah mengenali aku rupanya ?”, “Siapa yang tidak kenal denganmu, darling ... kamu adalah idaman setiap wanita” Madam Benazir ikut menimpali sambil menghembuskan asap rokoknya keatas “Oh ya ? Kalau begitu aku juga senang sekali berjumpa dengan anda nona ... bagaimana aku harus memanggilmu ?”, “Jodha !” Jodha segera mengerti maksud Jalal “Oooh .... oke nona Jodha dan panggil aku Jalal saja, lebih familiar terdengarnya bukan ?” ujar Jalal dengan matanya berkilat jenaka.
“Oh iya, dengan senang hati tuan Jalal, lelaki hebat seperti kamu telah bersikap merendah kepada orang seperti aku, sungguh sangat mengagumkan tapi itu tidak membuat penilaianku berubah tentang kamu tuan Jalal si Mr. Everything !” bathin Jodha sinis saat menjabat tangan pria itu demi sebuah tata krama dan budaya yang berlaku dinegrinya, kulit merekapun bersentuhan, panas dan membuat Jodha sedikit merinding karena genggaman tangan Jalal begitu tegas dan kuat, menunjukkan kehendaknya yang dominan yang membuat Jodha memberontak kuat ketika Jalal menggenggam tangannya lebih lama daripada sekedar formalitas. “Maaf, saya harus pergi tuan Jalal, saya tidak punya waktu untuk berleha leha karena saya masih punya banyak pekerjaan yang lain” Jodha berusaha melepaskan diri dari Jalal, apalagi dilihatnya gestur tubuh majikannya sudah mulai tidak berkenan dengan kehadirannya diantara mereka sedari tadi dan Jalal pun cukup peka melihat situasi ini, segera dia melepaskan tangan Jodha dan mundur selangkah sambil masih terus tersenyum kearah Jodha, seolah olah Jodha telah menyenangkan hatinya meskipun sebenarnya Jodha sangat muak dengannya.
“Nona Jodha, kalau sempat pasanglah taruhan untuk tim sepakbola German, anda suka sepakbola bukan ? Mumpung saat ini sedang diadakan perhelatan Piala Dunia, aku yakin kamu pasti menang !” Jodha segera memicingkan matanya dari balik kacamatanya menatap Jalal “Darimana anda tahu kalau saya suka sepak bola tuan Jalal ? Dan lagi apakah itu sebuah nasihat finansial terbaik anda ?” nada bicara Jodha terdengar sedikit sinis, sementara Jalal tertawa terbahak bahak, Madam Benazir memperhatikan mereka sambil terus menikmati isapan rokok putihnya dan tersenyum sinis “Tidak nona Jodha, tapi itu adalah taruhan yang bagus, anda bisa membuktikannya nanti dan soal darimana aku tahu, aku tahu saja” Jalal mencoba menggoda Jodha dengan kerlingan matanya “Maaf, tuan Jalal ... saya tidak suka bertaruh, permisi ... permisi Madam” Jodha segera berbalik dan berlalu dari hadapan Jalal, Madam Benazir cuma mengangguk, baru beberapa langkah Jodha melangkah tiba tiba dari arah belakang terdengar suara Jalal berteriak “Hidup ini pertaruhan nona Jodha !” Jodha tidak menggubrisnya dan terus melangkah gontai menghindari si Mr. Everything, Jodha tidak habis pikir untuk orang orang yang ada diruangan ini yang suka sekali menghambur hamburkan uang dengan cara memasang taruhan, ikut arisan ratusan juta rupiah, hingga pesta pesta yang nggak penting seperti malam ini, Jodha semakin kesal dengan kehidupan glamour yang dihadapinya setiap saat dan tanpa Jodha duga genggaman tangan Jalal yang cukup kuat tadi sesaat membuat tangan Jodha nyeri “Kamu tidak hanya menyindir penampilanku, Mr. Everything tapi juga melukai hati dan tanganku, kamu memang menyebalkan ! Awas kamu !”   NEXT


loading...

Popular posts from this blog

Bila Saatnya Tiba bag 27 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 35 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 39 by Sally Diandra