Loading...
Loading...

Rendezvous bag 22 by Sally Diandra

Rendezvous bag 22 by Sally Diandra. “Jalal !” Jalal dan Jodha langsung kaget begitu menyadari kehadiran ibu Hamida yang telah berdiri didepan mereka “Ibu ? Darimana ibu masuk ?” Jalal jadi salah tingkah didepan ibunya “Apakah ibu tidak boleh masuk kerumahmu, Jalal ? Ibu masuk lewat pintu garasi, rupanya kamu lupa mengunci pintu garasi” ujar bu Hamida sambil melirik kearah Jodha, Jodha hanya bisa menunduk, Jodha merasa tidak enak didepan ibu Hamida “Tumben ibu tiba tiba datang, biasanya ibu mengabari aku dulu kalau mau datang”, “Dari tadi siang ibu sudah mengabari kamu lewat WA tapi rupanya kamu sedang sibuk sekali dengan gadis ini” Jalal menyeringai bingung didepan ibunya, sehari ini dirinya memang belum membuka ponselnya sama sekali “Ibu memang sengaja datang kemari untuk melihat kamu juga rumahmu, kabarnya rumahmu sudah selesai direnovasi dan lagi tadi ibu baru saja selesai mengikuti seminar, kebetulan tempatnya tidak jauh dari rumahmu, jadi nggak ada salahnya kan kalau ibu mampir kesini” Jalal dan Jodha masih salah tingkah didepan ibu Hamida, sementara ibu Hamida menatap mereka berdua secara bergantian “Jalal, jujur ibu tadi sempat shock dengan apa yang kalian lakukan berdua tadi”, “Ibu ...” ibu Hamida langsung mengangkat tangannya menyuruh Jalal diam “Ibu sudah menduga sejak awal, sejak kamu mengajak gadis ini kerumah kita pertama kali, pasti ada sesuatu diantara kalian berdua”, “Aku memang mencintainya, bu dan aku sudah berencana untuk menikahinya” Jodha kaget mendengarnya, sementara salah satu alis ibu Hamida terangkat keatas sambil memandang kearah Jodha “Ibu tahu ... sudah saatnya kamu menikah, Jalal ... apalagi usiamu sudah 30 tahun dan berapa usiamu Jodha ?” Jodha mencoba mengangkat wajahnya memandang ibu Hamida “Saya 28 tahun, nyonya” Jodha akhirnya angkat bicara “Bagus, kalian memang sudah sebaiknya segera menikah tapi ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan ke Jodha secara pribadi, rapikan bajumu dan aku tunggu diruang kerja Jalal diatas” bu Hamida segera beranjak masuk kerumah Jalal, Jodha dan Jalal saling memandang satu sama lain.

Redenvouz“Jalal, aku nggak bawa baju, bagaimana ?” Jalal hanya tersenyum meihat kepanikan Jodha “Tidak apa apa, ibu pasti bisa mengerti, kamu bilang saja tadi kamu habis berenang, aku yakin ibu nggak akan marah” Jalal membantu Jodha mengerikan rambutnya yang panjang, kemudian ikut menyisir rambutnya, tak lama kemudian Jodha segera naik kelantai atas menuju keruang kerja Jalal yang terletak didekat kamar pribadi Jalal, ketika Jodha masuk kedalam ruang kerja tersebut, disana ibu Hamida sudah menunggunya. Dengan anggun ibu Hamida duduk diatas sofa “Masuklah, Jodha ... jangan lupa tutup pintunya !” Jodha segera masuk dan menutup pintu ruang kerja Jalal rapat rapat “Duduklah” ibu Hamida menunjukkan ke sofa yang kosong yang terletak disebelahnya “Tapi maaf, nyonya ... baju saya basah karena tadi saya habis berenang, jadi saya pinjam bajunya Jalal” ibu Hamida menatap Jodha dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan rambutnya yang masih basah “Ada acara apa memangnya sampai pake acara berenang segala ?” Jodha jadi semakin salah tingkah didepan ibu Hamida, mata elang yang dia turunkan ke Jalal serasa menghujam jantung Jodha “Tadi Jalal mengadakan farewell party, pesta perpisahan dengan para tukang yang sudah bekerja merenovasi rumah ini, Jalal mengundang mereka beserta para istri mereka masing masing” ibu Hamida masih terus memperhatikan Jodha dengan seksama “Lalu ...”, “Lalu mereka berenang sedangkan saya tidak karena saya tidak membawa baju renang tapi kemudian saya dipaksa dan diceburkan kedalam kolam renang, jadi basah semua baju saya, nyonya” lama mereka terdiam dalam keheningan, berada didepan ibu Hamida serasa berada didepan hakim yang hendak menjatuhi hukuman mati bagi dirinya “Oke, baiklah ... duduklah disini, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu” perlahan Jodha melangkahkan kakinya menuju sofa kemudian duduk di sebelah ibu Hamida.

“Kamu tahu kenapa aku ingin bicara berdua saja denganmu ?” Jodha menggelengkan kepalanya “Pada dasarnya aku senang mengetahui anakku, Jalal akhirnya memutuskan untuk menikah setelah beberapa kali aku jodohkan dan aku tahu kalau Jalal selalu serius dengan ucapannya tapi yang jadi masalah adalah ...” Jodha tahu kalau bu Hamida pasti akan membicarakan tentang dirinya “Yang jadi masalah adalah gadis seperti apa yang akan dinikahi Jalal nanti, seperti yang kamu lihat sendiri kan kalau Jalal itu selain tampan, kaya, dia juga terkenal karena otaknya yang cerdas” ucapan ibu Hamida cukup menohok Jodha “Tidak sedikit perempuan yang tergila gila dengan Jalal, untuk itulah rasanya wajar saja kalau kami dari pihak keluarga menentukan kriteria khusus untuk seorang gadis yang akan menikah dengannya” Jodha terus mendengarkan kata kata bu Hamida “Nah, saat ini ... ketika Jalal sudah memutuskan pilihannya pada dirimu, aku ingin bertanya padamu, prestasi apa yang sudah kamu buat sehingga aku bisa menyebut namamu dengan bangga sebagai istri Jalal didepan keluarga besarku, kolega dan masyarakat ?” Jodha terhenyak dengan ucapan ibu Hamida yang halus tapi terasa pedas ditelinganya “Kamu tahu kan keluarga kami keluarga terpandang ? Semua orang menyoroti kami, ibaratnya banyak yang ingin menggosipkan kami dengan berita berita miring tapi sejauh kami bisa menghandle semuanya, maka berita berita itu tidak akan berhembus, kamu mengerti ?” Jodha menganggukkan kepalanya.

“Untuk itulah, Jodha ... aku ingin kamu tahu, kalau kamu tentunya tidak inginkan dianggap hanya menumpang ketenaran Jalal, aku ingin kamu sadar bahwa status itu perlu, paling tidak kamu pernah menorehkan sebuah prestasi yang membuat dirimu sendiri bangga, otomatis aku sebagai calon ibu mertuamu juga akan bangga” ibu Hamida terus menatap Jodha dengan sorotan matanya yang tajam, sementara Jodha hanya tertunduk “Lihat aku, tatap mataku, Jodha” Jodha menuruti permintaan ibu Hamida, Jodha menengadahkan wajahnya dan menatap kedua bola mata ibu Hamida “Kamu perempuan, kelak kamu mempunyai anak, apa yang bisa kamu banggakan pada anakmu akan dirimu sendiri, kalau toh akhirnya kamu hanya berakhir menjadi seorang ibu rumah tangga misalnya, setelah kamu menikah ... tapi tetap ada sesuatu yang bisa kamu ceritakan pada anakmu sebagai dongeng sebelum tidur mereka” lama mereka terdiam kembali sambil saling memandang satu sama lain “Apa yang bisa aku banggakan pada anakku ?” jerit Jodha dalam hati “Sekarang, ceritakan padaku prestasi apa saja yang sudah kamu buat selama ini, selain keahlianmu dalam bahasa Jepang tapi aku rasa itu saja belum cukup” lidah Jodha terasa kaku ketika hendak mengutarakan pendapatnya namun dicobanya untuk mulai bicara didepan ibu Hamida. “Saya ... saya lulusan sastra Inggris, saya bisa dua bahasa bahasa inggris dan bahasa Jepang, saya dulu pernah bekerja di perusahaan export import, pernah juga memberikan les bahasa Inggris disebuah lembaga belajar, saya dulu juga bekerja sebagai asisten Madam Benazir dan yang terakhir saya bekerja pada Jalal sebagai pengawas renovasi rumahnya” ibu Hamida tampak menghela nafas cukup dalam.

“Hanya itu ?” Jodha mengangguk “Lalu apa yang menonjol dari kamu ? Semua orang bisa melakukan hal yang sama seperti kamu, Jodha ... tidak ada yang spesial” Jodha berusaha mengingat ingat prestasi apa yang telah dibuatnya selama ini tapi rasanya semuanya sudah dia katakan didepan ibu Hamida “Seberapa besar rasa cintamu ke Jalal ?”, “Sangat besar, nyonya ... saya sangat mencintainya” ibu Hamida memicingkan kedua kelopak matanya yang mulai berkerut “Apakah karena Jalal tampan, kaya dan terkenal jadi kamu mencintainya ?” Jodha menggelengkan kepalanya lemah “Saya sangat tahu diri, nyonya .... bagaimana posisi saya, selama ini saya tidak pernah berharap untuk memiliki Jalal, saya tahu saya ini ibarat pungguk yang merindukan rembulan tapi entah mengapa ternyata Jalal juga mempunyai perasaan yang sama dengan saya, kami saling mencintai satu sama lain” kembali ibu Hamida menghela nafas “Apakah kamu rela berkorban demi Jalal ?” ucapan ibu Hamida semakin menusuk dada Jodha, Jodha hanya bisa mengangguk “Kamu tahu kan Rukayah ?” Jodha kembali mengangguk “Rukayah adalah teman Jalal sejak kecil, usia mereka terpaut 5 tahun, sebenarnya dia mungkin lebih cocok dengan Mirza Hakim, anakku yang bungsu tapi Rukayah lebih tertarik dengan Jalal sejak kecil, ayahnya adalah seorang dokter sahabat dekat suamiku, jadi kami sudah seperti keluarga, aku sudah menganggap Rukayah sebagai anakku sendiri dan dia adalah calon terkuat sebagai istri Jalal untuk saat ini, jujur aku ingin menikahkan mereka berdua, selain cantik, Rukayah juga pintar, dia lulusan sarjana ekonomi dan dia seorang artis ternama, dia sudah membintangi ratusan film, saat ini dia sedang berencana untuk go internasional, perempuan seperti itulah, Jodha .... yang pantas mendampingi laki laki seperti Jalal, aku sebagai calon ibu mertuanya benar benar bangga bila menyebutnya sebagai istri Jalal didepan kolega dan keluarga besarku” Jodha benar benar merasa terpuruk pada jurang yang paling dalam.

“Tapi kali ini karena Jalal telah menentukan pilihannya padamu, bola panas ada ditanganmu sekarang, aku ingin kamu menunjukkan padaku prestasi apa yang bisa kamu buat yang bisa membuat aku bangga dengan menyebutmu sebagai istri Jalal, kamu bersedia ?” lidah Jodha tercekat namun tiba tiba dibenaknya muncul nama Reesham Khan “Yaa miss Reesham Khan, dia bisa membantu aku mewujudkan hal ini ! Aku harus menerima tantangan nyonya Hamida, aku harus bisa menunjukkan padanya kalau aku pantas menjadi nyonya Jalalludin Muhammad Akbar ! Kamu tidak boleh menyerah, Jodha !” Jodha telah bertekad untuk membuktikan ke kemampuannya didepan ibu Hamida “Saya bersedia, nyonya”, “Bagus ! Camkan itu baik baik ... aku beri kamu waktu satu tahun untuk membuktikannya, aku rasa itu waktu yang sepadan, kita lihat apa yang bisa kamu lakukan dalam 1 tahun kedepan, kalau kamu bisa membuktikannya, dengan bangga aku akan merestui pernikahan kalian” ujar ibu Hamida sambil menepuk nepuk pipi Jodha “Hari sudah malam, aku pulang dulu” ibu Hamida berdiri, diikuti oleh Jodha kemudian mereka berdua berjalan menuju kepintu ruang kerja Jalal, ketika Jodha hendak membuka pintu tersebut tiba tiba ibu Hamida berkata “Jodha, hargai dirimu sendirimu, jagalah kehormatanmu, ini serius” Jodha bingung dengan ucapan ibu Hamida “Maksud nyonya ?”, “Aku tahu kalau kalian saling mencintai, aku juga tahu bagaimana perasaan dua orang yang sedang jatuh cinta tapi jangan sampai kebablasan, kamu sebagai perempuan harus bisa berkata tidak kalau hubungan kalian mulai menjurus ke arah hubungan intim” Jodha mengernyitkan dahinya “Ini serius, Jodha ... dan aku tidak main main, aku tidak akan merestui hubungan kalian kalau tiba tiba kamu mengatakan kalau kamu mengandung anak Jalal” Jodha hanya bisa tersenyum masam “Tapi aku yakin, kamu pasti tidak akan berbuat seperti itu tapi ingat ini warning buat kamu, Jodha” ujar ibu Hamida sambil tersenyum.

Ketika dibukanya pintu ruang kerja Jalal, Jalal sudah berada disana dengan muka masam, rupanya tanpa mereka sadari Jalal sempat menguping pembicaraan mereka dipintu “Ini tidak adil buat Jodha, ibu !” Jalal segera mengutarakan keberatannya ke ibu kandungnya “Tidak adil bagaimana, Jalal ? Wajar kan ibu minta pacarmu ini untuk menunjukkan prestasinya didepan keluarga kita, aku ingin dia dihargai bukan karena dia itu istrimu semata tapi ada sesuatu dalam dirinya yang bisa dibanggakan, semua orang akan menoleh kearahmu begitu kamu mengatakan akan menikah, sayang” Jalal menatap ibunya dengan perasaan kesal “Aku mencintainya apa adanya, bu ... aku tidak peduli dengan status ataupun pekerjaannya” ibu Hamida menggelengkan kepalanya “Kalau kamu orang biasa, mungkin hal itu tidak bermasalah, Jalal ... Tapi kamu adalah anak dokter Humayun dan ibu Hamida dan kamu sendiri adalah Jalalludin Muhammad Akbar, pakar finansial terkenal, ingat itu Jalal !”, “Jalal, tidak apa apa ... aku yakin aku bisa melakukannya”, “Tapi, Jodha ...” Jodha segera menggelengkan kepalanya memintanya untuk tidak membantah permintaan ibu Hamida, akhirnya Jalal menuruti permintaan Jodha “Bagaimana sudah clear ?” Jalal hanya mengangguk lemah ke ibunya “Baiklah, kalau begitu ibu pulang dulu yaa” Jalal kembali mengangguk, ibu Hamida segera menuruni tangga menuju kepintu depan diikuti oleh Jalal dan Jodha hingga ke gerbang depan.

Sepeninggal ibu Hamida, Jalal langsung mengerutkan dahinya memandang dengan kesal kearah Jodha dan segera berbalik masuk kedalam rumah tanpa berkata sepatah katapun, Jodha segera mengejarnya dan segera menghentikan langkah Jalal begitu mereka sampai diruang tamu “Jalal kamu marah ?” Jodha memegang bahu Jalal, mata mereka berdua saling memandang satu sama lain “Jangan diam seperti ini, aku harap kamu bisa mengerti”, “Aku mencintaimu apa adanya, Jodha ! Aku tidak peduli dengan semua yang ibuku katakan tadi !” Jodha menggelengkan kepalanya “Tidak, Jalal ... aku rasa apa yang ibumu katakan tadi benar, aku tidak hanya menikah denganmu tapi aku juga akan menikah dengan seluruh keluargamu jadi aku harus membuat mereka bangga mempunyai menantu dan saudara ipar seperti aku, kamu bisa mengerti kan ?” Jalal menatap Jodha dengan tatapan haru, langsung direngkuhnya Jodha dalam pelukkannya, Jodhapun membalas pelukan Jalal erat “Setelah ini aku harus menghubungi miss Reesham Khan, aku harus berubah, aku tahu kalau aku punya potensi dan modal, aku bukan lagi Jodha si ulat bulu aku harus bisa bermetaformosis menjadi seekor kupu kupu yang cantik, ini semua demi Jalal” . Rendezvous bag 23 by Sally Diandra

loading...

Popular posts from this blog

Bila Saatnya Tiba bag 27 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 35 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 39 by Sally Diandra