Loading...
Loading...

Deja Vu - Prolog by Sally Diandra

Deja Vu - Prolog by Sally Diandra. Deja vu adalah sebuah kata yang berasal dari Bahasa Perancis yang artinya suatu perasaan dimana seseorang merasa pernah mengalami sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya, ada juga yang mengasosiasikannya dengan gangguan pada otak atau suatu keadaan yang berhubungan dengan kehidupan lain di masa lalu. Namun Deja Vu yang dialami Jodha malah akan menggiringnya pada penemuan sebuah cinta sejati yang tidak pernah di duganya selama ini.
“Selamat Jodha, kamu hamil !” Rukayah langsung memberikan ucapan selamatnya ke Jodha yang saat itu duduk terbengong di depannya didalam ruangan Rukayah
“Apa ? Aku hamil ? Apa aku nggak salah denger ?” ujar Jodha dengan nada tidak percaya, Rukayah menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum senang
“Iyaaa, kamu hamil ! Apa kamu nggak senang mendengarnya ? Yaaa walaupun aku baru belajar untuk menjadi dokter specialis kandungan, akan tetapi analisaku akurat, kamu benar benar hamil ! Kamu harus memberi tahu Jalal, kalau kamu telah memberikannya buah hati kalian” ujar Rukayah sambil memeluk Jodha erat, Jodha segera melepaskan pelukkan Rukayah
“Rukayah, kamu yakin ? Kalau aku hamil ?” Jodha terbengong menatap Rukayah
“Aku yakin 100% ! Aku ini kan calon dokter kandungan, masa aku salah mendiagnosa ? dan lagi kamu ini aneh, kamu kok malah bingung gitu sih ? Kamu kan sudah bersuami, jadi wajar kan kalau kamu hamil ? Apanya yang salah ? Kamu ini aneh ?” Rukayah merasa heran dengan pasiennya yang satu ini yang juga merupakan sahabatnya sejak kuliah dulu
Deja Vu“Aku hamil ? Masa bisa secepat itu ? Dan lagi kami hanya melakukannya satu kali ini, itu pun tanpa persetujuanku, aku tidak menginginkan bayi ini ! Aku benci bayi ini sama seperti aku membenci ayahnya ! Pernikahan kami hanya kamuflase, hanya formalitas belaka, aku harus menggugurkan bayi dalam kandunganku ini” bathin Jodha dalam hati, kemarahannya pada Jalal suaminya membuat Jodha merasa jengah dengan kehadiran seonggok janin di dalam rahimnya, dari lubuk hatinya yang paling dalam Jodha enggan memiliki anak apalagi ini adalah anak Jalal, laki laki yang telah menorehkan sebuah luka di hatinya berulang kali, dan sampai saat ini luka itu masih menganga, terasa sakit yang begitu dalam ketika akhirnya Jodha mengetahui kalau laki laki itu telah mempermainkan perasaannya.
Jodha teringat bagaimana dulu ketika akhirnya dirinya memutuskan untuk menikahi Jalal seorang dokter muda yang sempat hampir terhambat karirnya gara gara ulahnya sendiri yang ketahuan mabuk mabukkan di sebuah kelab malam hingga berbuntut perkelahian. Jalal yang sebenarnya bukan orang asing bagi Jodha karena dulu ketika mereka sama sama kuliah di fakultas kedokteran, Jalal sempat memacari Jodha hingga beberapa tahun bahkan Jalal sang don yuan kampus sempat punya keinginan serius untuk menikahi Jodha, hubungan asmara mereka sempat membuat geger fakultas kedokteran karena Jalal yang don yuan, yang suka mengumbar rayuan ke semua wanita tiba tiba bertekuk lutut di kaki Jodha, seorang mahasiswa baru di fakultas kedokteran.
Pertemuan mereka bermula ketika Jalal sang ketua masa orientasi mahasiswa baru mendapat laporan dari salah seorang anak buahnya bahwa ada seorang mahasiswi baru yang vokal “Boss ! Lapor !” ujar Maan Sigh sambil terengah engah di depan Jalal “Apaaa ?” ujar Jalal dengan gayanya yang bossy “Ada mahasiswi baru yang vokal, dia nggak mau menjalankan hukumannya, boss ! Malah temannya habis habisan membela itu cewek !” Jalal sang ketua MOS yang saat itu baru menginjak semester 7 di kampusnya segera berdiri dan menuju ke tempat temannya yang sedang bergerombol mengitari ketiga cewek mahasiswa baru pembuat kehebohan
“Ada apa sih ini ?” Jalal segera menyeruak masuk ke dalam kerumunan, dilihatnya ada seorang cewek yang sedang membungkuk mengelus elus punggung temannya yang sedang membungkuk sambil terbatuk batuk.
“Nah, ini si bos datang ! Lapor bos ! Cewek ini nggak mau melaksanakan hukumannya” ujar salah seorang anak buah Jalal yang bernama Naser “Memangnya apa kesalahannya ?” ujar Jalal sambil memperhatikan cewek yang sedang menepuk nepuk punggung temannya yang sekilas melirik ke arahnya dengan tatapan matanya yang ketus “Cantik juga ni cewek” bathin Jalal dalam hati “Cewek itu yang lagi batuk batuk, dia itu datang terlambat, boss ! Otomatis kami beri dia hukuman, aku suruh dia keliling lapangan kampus kita ini ...”, “Tapi apa kalian tidak melihat kalau lapangan ini sangat luas ? Temanku ini tidak kuat melakukan hukuman kalian, makanya dia menghentikan larinya, apa kalian tidak lihat wajahnya merah padam seperti ini ?” ujar Jodha sambil mengelus elus punggung Rukayah, “Jodha, ini minumannya” ujar Moti setelah berhasil menerobos kerumunan yang mengelilingi kedua sahabatnya itu sambil menyodorkan botol minuman ke Jodha “Rukayah, lebih baik kamu minum dulu, ini minumlah” ujar Jodha sambil menyodorkan botol minuman ke Rukayah.
Rukayah segera menyambar botol minuman tersebut dan meminumnya perlahan lahan, nafasnya mulai tidak terlihat tersengal sengal “Bagaimana kamu sudah agak baikkan ?” Jalal mulai membuka front perdamaian kubunya dengan kubu Jodha, Rukayah hanya diam saja “Bagaimana Ruku ? Kamu baik baik saja kan ?” ujar Jodha cemas melihat wajah temannya yang merah padam, Rukayah kemudian menganggukkan kepalanya ke arah Jodha “Baguslah ! Sebelumnya aku minta maaf atas perlakukan anak buahku, sebagai ketua MOS aku minta maaf tapi sebenarnya kamu itu memang wajib di beri hukuman karena kamu telah melakukan kesalahan !” ujar Jalal lantang
“Oke, aku terima kalau temanku ini salah tapi seharusnya kalian sebagai pihak panitia harus bisa memilah milah hukuman seperti apa yang pantas untuk seorang gadis seperti dia !” ujar Jodha yang tidak terima Rukayah di perlakukan tidak adil, sementara Jalal dan teman teman panitia lainnya saling berpandang pandangan satu sama lain sambil sesekali melirik ke arah Jodha
“Aku yakin diantara kalian ini tidak ada yang mampu belari mengelilingi lapangan ini ! Aku berani bertaruh !” ujar Jodha lantang sambil menunjuk ke arah mereka, Jalal yang terusik sisi maskulinnya merasa harga dirinya tercabik cabik oleh pendatang baru di kampusnya ini “Oke, kita bertaruh ! Tapi aku tidak mau sendiri mengelilingi lapangan ini, kita adakan kompetisi bagaimana ? Siapa yang menang dia akan menjadi majikan selama 3 bulan dan yang kalah akan menjadi pelayannya ! Bagaimana kamu siap ?” ujar Jalal sambil melirik nakal ke arah Jodha
“Aku siap !” ujar Jodha mantap “Lalu siapa jagoanmu yang akan bertanding denganku ?” tantang Jalal dengan tatapan matanya yang sombong “Aku !” ujar Jodha mantap, Rukayah dan Moti terkejut dan cemas hingga terlontar kata yang bersamaan “Jodha ! Kamu gila !” ujar mereka berdua berbarengan
“Hah ? Kamu ? Yang benar saja ? Apa kamu nggak takut apa yang terjadi pada temanmu itu akan terjadi padamu juga nona ?” ujar Jalal sambil menggoda Jodha dengan senyuman nakalnya yang dibarengi dengan pandangan aneh dari teman teman Jalal “Buat apa aku takut ? Kita lihat saja besok ! Don’t judge the book by it’s cover, bung !” ujar Jodha tegas, Jalal merasa ada sesuatu yang berbeda dengan cewek di depannya ini, tidak seperti cewek kebanyakan yang di pacarinya selama ini, yang rata rata manja dan hanya memperhatikan kecantikan mereka semata “Oke ! Aku pegang kata katamu ! Hari minggu pagi, setelah MOS usai, tempatnya di sini jam 7 pagi, aku tunggu ! Dan jangan telat ! On time nona !” ujar Jalal sambil mengulurkan tangannya ke arah Jodha
“Deal !” ujar Jodha sambil menyambut tangan Jalal, mereka pun berjabat tangan, kemudian berlalu dari tempat tersebut di ikuti oleh Rukayah dan Moti, Jalal memperhatikan Jodha yang mulai berjalan menjauh darinya seraya berkata pada Maan Sigh “Maan Sigh, cari tahu tentang cewek itu ! Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya, berani benar dia menantang aku, apa dia nggak tahu siapa aku sebenarnya !” ujar Jalal geram
Satu hari sebelum kompetisi lari yang diadakan oleh Jalal dan Jodha, saat itu Moti dan Rukayah sedang menemani Jodha yang sedang asyik berenang di rumah Rukayah yang mewah “Aku heran sama Jodha, bukannya dia itu seharusnya berlatih berlari untuk pertandingan besok, ini malah dari tadi renang bolak balik” ujar Moti sambil menikmati jus orange di tepi kolam renang bersama Rukayah sambil merendam tubuhnya “Aku juga heran, kenapa sih dia nantangin senior, kalau dia kalah gimana, coba ? Apalagi kita ini kan cewek, eh tapi ngomong ngomong ketua MOS kita yang namanya Jalal itu cakep juga ya” ujar Rukayah sambil tersipu malu “Aku dengar sih, cewek cewek di seluruh universitas kita, hampir semuanya pernah di pacari sama don yuan kelas kakap itu !” ujar Moti sungguh sungguh “Iya juga sih, aku juga sudah dengar hal itu, siapa sih yang nggak kenal dengan Jalalludin Muhammad Akbar !” ujar Rukayah sambil mengangkat salah satu tangannya ke atas
“Aku tidak kenal !” tiba tiba suara Jodha terdengar dibelakang mereka, Jodha segera menyeruak di antara Rukayah dan Moti, mengambil jus melonnya kemudian meminumnya perlahan “Hmm ... enaknya, kamu ini memang beruntung Rukayah, anak bungsu, rumah mewah, semuanya serba ada” ujar Jodha sambil bergabung bersama kedua sahabatnya itu “Tapi aku selalu merasa kesepian, Jo ... untung saja aku bertemu dengan teman teman seperti kamu, aku jadi nggak merasa kesepian sekarang” ujar Rukayah sambil merangkul bahu Jodha, Jodha dan Moti hanya tersenyum memandang ke arah Rukayah
“Jo, apa kamu sudah siap untuk kompetisi besok ? Kamu bilang kamu tidak kenal dengan dia kan ? Lalu bagaimana kamu bisa mengalahkannya ?” sela Moti dengan rasa cemas “Tenang saja, Moti ... aku telah menyiapkan semuanya, setiap pagi aku kan selalu menyempatkan diri untuk berlari, Mo” ujar Jodha sambil menyeringai senang “Kamu tidak pernah liat Jodha berlari ? Kalian kan satu kos kosan” ujar Rukayah penasaran “Walaupun kami satu kos kosan tapi kami ini kan beda kamar, Ruku dan setiap pagi enakan tidur lah daripada mlototin dia berlari” ucapan Moti membuat kedua sahabatnya itu tertawa terbahak bahak
“Makanya nggak heran kalau perutnya selalu buncit” ujar Jodha sambil memegang pinggang Moti “Jodhaaaa ...” teriak Moti manja sambil menyipratkan air ke arah Jodha, Jodha membalas cipratan Moti, mereka saling membalas satu sama lain, Rukayah juga ikutan mencipratkan air ke arah mereka hingga akhirnya perang airpun terjadi sore itu diantara mereka sambil tertawa tawa senang.
Keesokan harinya, Jodha, Rukayah dan Moti sudah tiba di kampus mereka, saat itu waktu masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi, masih ada waktu setengah jam menunggu kedatangan Jalal and the genk, saat itu Jodha mulai melakukan pemanasan sementara Rukayah dan Moti menunggu dan memperhatikan Jodha di bangku taman dibawah pohon beringin “Apa kamu yakin, Jo ... kamu bisa memenangkan kompetisi lari ini ? Karena aku dengar don yuan kita itu olahragawan sejati, dia termasuk salah satu team Mapala kampus kita juga lho !” ujar Moti sambil menikmati roti sandwich buatan Rukayah “Maksud kamu Jalal itu hobby naik gunung ?” ujar Rukayah sambil membuatkan roti sandwich yang lain untuk Jodha, Moti hanya menganggukkan kepalanya
“Jo, makanlah dulu, ini rotinya sudah jadi buat kamu, bagaimanapun juga perut kamu itu harus di isi, ayoo kemarilah” teriak Rukayah sambil menyodorkan roti sandwich itu ke arah Jodha, Jodha segera menghampiri kedua sahabatnya dan mengambil roti sandwich yang di berikan Rukayah “Terima kasih, Ruku ... kamu ini memang sahabat yang baik, selain numpang tidur, diantar pake mobil, kamu juga mau aja buatin kami sarapan” ujar Jodha sambil menikmati setiap gigitan roti sandwichnya “Apa sih yang nggak buat kalian, aku senang kok melakukan ini semua” ujar Rukayah tulus “Heiii ... don yuan kita sudah datang tuuuh !” ujar Moti sambil memberikan kode dengan dagunya, Jodha dan Rukayah segera melihat ke arah depan.
Dari kejauhan Jodha bisa melihat Jalal dan bala tentaranya datang menggunakan mobil Range Rover sport keluaran pabrikan Amrik warna putih dengan kemudi stir di sebelah kiri, Jalal turun dari bangku kemudi diikuti oleh teman temannya, Maan Sigh, Naser dan Aziz. Jalal yang biasanya membiarkan rambut gondrongnya itu terurai bebas seperti surai singa kali ini di ikatnya semua rambut merahnya itu kebelakang dengan kaos oblong dan celana bermudanya plus handuk kecil yang melingkar di leher.
Dari kejauhan Jalal dan teman temannya sudah melihat kehadiran Jodha dan teman temannya yang sedang menikmati sarapan pagi mereka, dengan langkah gontai Jalal berjalan menuju kearah Jodha yang saat itu mengenakan hot pants warna pink yang memperlihatkan kakinya yang jenjang dengan kaos oblong yang senada warnanya, sementara rambut panjangnya yang hitam di rapikannya dengan kepangan rambut. Mata mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan sebuah pengharapan kemenangan ada di tangan mereka.... Deja Vu bag 1 by Sally Diandra.

loading...

Popular posts from this blog

Bila Saatnya Tiba bag 27 by Sally Diandra

Bila Saatnya Tiba bag 35 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 39 by Sally Diandra